<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>REALIGI - Kumpulan kisah kehidupan nyata</title>
	<atom:link href="http://menujuhidayah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://menujuhidayah.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi kisah di atas Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 09:02:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='menujuhidayah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/04c2746525ea25901db94a2099a92b31?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>REALIGI - Kumpulan kisah kehidupan nyata</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://menujuhidayah.wordpress.com/osd.xml" title="REALIGI - Kumpulan kisah kehidupan nyata" />
	<atom:link rel='hub' href='http://menujuhidayah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kisah Menakjubkan Istri Shalihah yang Dimadu</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2012/02/08/kisah-menakjubkan-istri-shalihah-yang-dimadu/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2012/02/08/kisah-menakjubkan-istri-shalihah-yang-dimadu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 03:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2012/02/08/kisah-menakjubistri-shalihah-yang-dimadu/</guid>
		<description><![CDATA[Dahulu di Baghdad ada seorang laki-laki penjual kain yang kaya. Tatkala dia sedang berada di tokonya, datanglah seorang gadis muda mencari-cari sesuatu yang hendak dibeli. Ketika sedang berbicara, tiba-tiba gadis itu menyingkap wajahnya di sela-sela perbincangan tersebut sehingga laki-laki terrebut terkesima dan berkata, &#8220;Demi Allah, aku terpana dengan apa yang kulihat.&#8221; Gadis itupun berkata, &#8220;Kedatanganku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=153&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dahulu di Baghdad ada seorang laki-laki penjual kain yang kaya. Tatkala dia sedang berada di tokonya, datanglah seorang gadis muda mencari-cari sesuatu yang hendak dibeli. Ketika sedang berbicara, tiba-tiba gadis itu menyingkap wajahnya di sela-sela perbincangan tersebut sehingga laki-laki terrebut terkesima dan berkata, &#8220;Demi Allah, aku terpana dengan apa yang kulihat.&#8221;<span id="more-153"></span></p>
<p>Gadis itupun berkata, &#8220;Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?&#8221;</p>
<p>Laki-laki itu berkata, &#8220;Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.&#8221;</p>
<p>Wanita itu mengatakan, &#8220;Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.&#8221; Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.</p>
<p>Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, &#8220;Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.&#8221; Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.</p>
<p>Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, &#8220;Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.&#8221;</p>
<p>Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, &#8220;Rumah siapakah ini?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.&#8221;</p>
<p>Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, &#8220;Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.&#8221; Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.</p>
<p>Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar. Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, &#8220;Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.&#8221;</p>
<p>Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya. Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, &#8220;Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.&#8221; <strong>(Shifatus Shofwah, 2/532)</strong></p>
<p>Subhanallah&#8230;&#8230;.</p>
<p><strong>Dinukil dari:</strong> Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel &#8220;Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah&#8221; oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=153&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2012/02/08/kisah-menakjubkan-istri-shalihah-yang-dimadu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Inspiratif: 3 Hari 3 Malam Berjalan Demi Mendatangi Daurah</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2012/01/15/kisah-inspiratif-3-hari-3-malam-berjalan-demi-mendatangi-daurah/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2012/01/15/kisah-inspiratif-3-hari-3-malam-berjalan-demi-mendatangi-daurah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 23:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Bismillaahirrohmaanirrohiim…….. Cerita ini saya (penulis) tulis adalah untuk memberikan ibroh kepada kita semua khususnya saya sendiri bahwa penderitaan dan kesusahpayahan kita dalam menempuh jalan yang haq ini tidaklah seberapa, bahkan jika kita bandingkan dengan para salafushalih. Cerita yang saya ambil ini adalah kisah manusia di masa ini, dimana sangat langka dan sulit ditemui orang-orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=144&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillaahirrohmaanirrohiim…….. </p>
<p>Cerita ini saya (penulis) tulis adalah untuk memberikan ibroh kepada kita semua khususnya saya sendiri bahwa penderitaan dan kesusahpayahan kita dalam menempuh jalan yang haq ini tidaklah seberapa, bahkan jika kita bandingkan dengan para salafushalih.<span id="more-144"></span> </p>
<p>Cerita yang saya ambil ini adalah kisah manusia di masa ini, dimana sangat langka dan sulit ditemui orang-orang yang memiliki ghiroh sama sepertinya dalam tholabul ‘ilm. Saya menuliskan cerita ini adalah berdasarkan sebuah kisah nyata, dimana kisah tersebut saya dengar sendiri oleh salah satu sumber (akhowat) terpercaya yang mengetahui kisah tersebut… wallahua’lam. Semoga kisah ini dapat memotivasi dan menginspirasi kita untuk lebih dapat bersemangat dalam menuntut ilmu syar’ie… Baarokallohufiikum…… </p>
<p>Di suatu daerah terpencil, terdapat sepasang suami istri yang sangat zuhud…. mereka belum dikaruniai seorang putra karena masih dikategorikan pengantin yang masih baru. Perlu diketahui sang suami adalah seorang yang sangat rajin menuntut ilmu, ia adalah seseorang yang memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk memperoleh ilmu. Bahkan dahulu ketika ia ingin menikah, ia tidak mempunyai sepeser uang yang cukup untuk meminang seorang akhowat, dan akhirnya ia menghadap kepada salah seorang ustadz di ma’had yang saat itu ia belajar di sana hanya untuk meminta nasihat bagaimana ia dapat menikah. </p>
<p>Ia sangat sadar bahwa dirinya tak tampan, dan tidak mapan dalam pekerjaan karena hampir masa mudanya dihabiskan di ma’had. Sang ustadz pun menghargai tekadnya dan pada akhirnya membiayai pernikahan lelaki tersebut. Sang suami di masa mudanya adalah salah seorang murid yang diakui kepandaiannya di ma’hadnya. Beberapa rekan dan ustadz memujinya dalam hal keilmuannya. </p>
<p>Suatu hari sang suami berniat ingin mendatangi suatu dauroh di luar kota. Karena ia belum memiliki pekerjaan yang tetap (masih serabutan-red-) maka ia dan istrinya memikirkan bagaimana caranya agar sang suami dapat pergi untuk mendatangi dauroh tersebut walau ekonomi mereka sangat pas-pasan. </p>
<p>Jarak yang harus ditempuh sangatlah jauh, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan penghasilan mereka untuk makan sehari-hari saja masih belum cukup. Sang suami bukanlah seorang yang malas dalam mencari nafkah, namun qadarallah…. Allah telah menetapkan rezekinya hanya sedemikian. Walau demikian ia tetap bersemangat dalam menjalani hidupnya. </p>
<p>Suatu hari istrinya yang walhamdulillah sangat qona’ah dan juga zuhud, berinisiatif membongkar tabungan yang beberapa bulan ia kumpulkan di kotak penyimpanannya. Qaddarallah….. uang yang terkumpul hanya Rp 10.000,-! Bayangkan wahai pembaca&#8230; bahkan mata ini ingin menangis ketika saya mengetik kisah ini…. Dalam sehari kita bisa memegang uang puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan mungkin hingga ada yang mencapai nominal jutaan…</p>
<p>Dengan keistiqomahan dan kezuhudan, sang istri tidak pernah mengeluh untuk mengumpulkan 100 perak (Rp 100,-) setiap keuntungan yang diperoleh suaminya yang tidak setiap hari ia dapatkan….. Sang istri segera mengumpulkan uang tersebut dan berinisiatif untuk membuatkan bekal arem-arem (bahasa jawa), yaitu sejenis nasi kepal yang dibungkus daun pisang untuk bekal perjalanan suaminya. Hanya itu yang dapat sang istri berikan kepada suaminya sebagai wujud cinta dan kasih sayangnya…. </p>
<p>Sang suami pun kemudian berangkat dengan membawa bekal dan do’a dari istrinya untuk menuntut ilmu…. Ia pergi dengan berjalan kaki….. Ya!! hanya berjalan kaki untuk menempuh jarak puluhan kilometer!!! (wallahua’lam) Karena ia tak membawa uang sepeserpun untuk bepergian… hanya beberapa buah arem-arem dan pakaian yang melekat di badannya yang ia bawa ke luar kota… Subhanallooh….. </p>
<p>Perjalanan ia tempuh 3 hari 3 malam dengan kedua kakinya tanpa kendaraan satupun…. Akhirnya ia pun sampai di tempat dauroh dilaksanakan, hanya dengan berjalan kaki dan berteduh di tempat seadanya selama perjalanan….. </p>
<p>Dauroh akhirnya dimulai… selama dauroh ia sangat antusias untuk mengambil ilmu yang diterimanya, ia mengambil shaf paling depan dan dekat dengan ustadz pemateri. Namun beberapa saat kemudian ia mendapat teguran oleh seseorang di sampingnya karena setiap beberapa menit ia selalu meluruskan kakinya ketika materi berlangsung… hal itu tidak ia lakukan sekali-dua kali…. namun hingga beberapa kali… hingga akhirnya orang di sampingnya pun menegurnya karena menganggapnya tidak sopan….</p>
<p>Hal itu ia lakukan karena kakinya terasa pegal selama 3 hari 3 malam berjalan kaki…. Masyaa Alloh.. </p>
<p>Saat istirahat pun tiba… ia berkumpul dengan ikhwan-ikhwan lain di dapur untuk membantu berbenah…. ia pun akhirnya menceritakan kisah 3 hari 3 malamnya itu kepada salah seorang ikhwan di tempat tersebut.. dan seketika membuat tercengang orang-orang yang mendengarnya…..</p>
<p>Akhirnya cerita itu sampai ke telinga ustadz pemateri dauroh… Ustadz pun tercengang dengan kisah itu…. dan akhirnya ustadz beserta ikhwan-ikhwan mengumpulkan dana sukarela untuk memberikan sumbangan kepadanya… dan terkumpulah uang Rp 300.000,- sebagai dana bantuan untuk kepulangannya…. </p>
<p>Subhanalloh… sebuah kisah yang mungkin sempat kita ragukan kebenarannya, tapi Insya Alloh ini kisah nyata….. </p>
<p>Semoga kita dapat mengambil ibroh dari kisah ini…. terakhir mari kita simak hadist berikut ini…. </p>
<p>“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu agama, pasti Allah membuat mudah baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim) </p>
<p>Yahya bin Abi Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan (dengan santai/tidak bersungguh-sungguh) .” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/385, no. 554) </p>
<p>Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua terkhususnya saya sebagai penulis….. Wallahua’lam bishowab…. </p>
<p>NB: Jika ada kekurangan penulisan maupun kekurangtepatan alur cerita dalam kisah ini… semua kesalahan dari penulis semata dan mohon untuk dimaklumi karena keterbatasan ingatan dan lain sebagaianya… karena kebenaran semuanya dari Alloh azza wa jalla semata.. Baarokallohufiikum. </p>
<p>(Menuntut Ilmu Dien (Syar’ie)’s blog) </p>
<p>Yogyakarta, 9 juni 2011. </p>
<p>Penulis: Hamba Allah</p>
<p><b>Sumber:</b> <a href="http://www.ikhwanmuslim.or.id/?content=article_detail&amp;idb=124&amp;title=kisah-nyata-di-suatu-dauroh-perjalanan-seorang-penuntut-ilmu-yang-perlu-diteladani">http://www.ikhwanmuslim.or.id/?content=article_detail&amp;idb=124&amp;title=kisah-nyata-di-suatu-dauroh-perjalanan-seorang-penuntut-ilmu-yang-perlu-diteladani</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=144&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2012/01/15/kisah-inspiratif-3-hari-3-malam-berjalan-demi-mendatangi-daurah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keajaiban Istighfar di Tengah Gempa</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/keajaiban-istighfar-di-tengah-gempa/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/keajaiban-istighfar-di-tengah-gempa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 14:48:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/keajaiban-istighfar-di-tengah-gempa/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam gempa di Pakistan yang diketahui banyak orang, di mana korbannya mencapai ribuan, pertolongan Allah &#8216;Azza wa Jalla berkenan menyelamatkan seorang laki-laki dari kematian. Pada saat gempa, dia berada di rumah sedang menyantap makanannya. Kemudian dia beranjak ke tempat tidurnya untuk sedikit istirahat. Saat dia terlentang di atas kasurnya, tiba-tiba gempa ganas terjadi. Kamar bergetar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=140&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam gempa di Pakistan yang diketahui banyak orang, di mana korbannya mencapai ribuan, pertolongan Allah &#8216;Azza wa Jalla berkenan menyelamatkan seorang laki-laki dari kematian.</p>
<p>Pada saat gempa, dia berada di rumah sedang menyantap makanannya. Kemudian dia beranjak ke tempat tidurnya untuk sedikit istirahat.<span id="more-140"></span> Saat dia terlentang di atas kasurnya, tiba-tiba gempa ganas terjadi. Kamar bergetar hebat, bahkan seluruh rumah. Atap di atasnya mulai retak dan dia melihatnya. Begitu dahsyatnya hingga dia tidak bisa bergerak dari tempatnya. Tembok-tembok kamar mulai berjatuhan di hadapan matanya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali beristighfar, mengucapkan, astaghfirullah&#8230; astaghfirullah&#8230; dan terus berkelanjutan sementara atap pun mulai jatuh.</p>
<p>Peristiwa ini terjadi begitu singkat, tidak lebih dari beberapa menit. Allah &#8216;Azza wa Jalla berkehendak menyelamatkan orang ini, dia menceritakan dirinya, &#8220;Atap yang terbuat dari tanah khurasan yang tebal benar-benar jatuh, akan tetapi -alhamdulillah- reruntuhannya jatuh di seluruh pojok ruangan kecuali tempat yang saya ada di sana. Saya bangkit dan segera keluar, saya pun memuji Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala.&#8221;</p>
<p>Saya berkata, &#8220;Sungguh benar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam,</p>
<p>&#8220;Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah membuatkannya dari setiap kesusahan ada jalan keluar dan dari setiap kesempitan ada penyelesaian serta diberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.&#8221;</p>
<p>&gt; Kisah ini saya diceritakan oleh Ustadz Dr. Mubasysyir, seorang konsultan di rumah sakit Garda Nasional.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Keajaiban Sedekah &amp; Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah Muhammad Iqbal, Lc &amp; Jamaluddin), penerbit Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 143-144.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=140&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/keajaiban-istighfar-di-tengah-gempa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amarah Sang Istri Reda karena Istighfar</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/amarah-sang-istri-reda-karena-istighfar/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/amarah-sang-istri-reda-karena-istighfar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 14:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/amarah-sang-istri-reda-karena-istighfar/</guid>
		<description><![CDATA[Seseorang menceritakan kisahnya, &#8220;Di suatu hari saya pulang ke rumah dalam keadaan letih dan penuh beban. Aku membuka pintu ketika tiba-tiba istri menunggu penuh tanda marah dan emosi. Dia langsung menjejaliku dengan berbagai pertanyaan. Saya tidak bisa menguasai diri, lalu menghadapinya dengan emosi dan amarah yang sama. Malam sudah larut, sementara debat dan marah terus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=139&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seseorang menceritakan kisahnya,</p>
<p>&#8220;Di suatu hari saya pulang ke rumah dalam keadaan letih dan penuh beban. Aku membuka pintu ketika tiba-tiba istri menunggu penuh tanda marah dan emosi. Dia langsung menjejaliku dengan berbagai pertanyaan. Saya tidak bisa menguasai diri, lalu menghadapinya dengan emosi dan amarah yang sama.<span id="more-139"></span></p>
<p>Malam sudah larut, sementara debat dan marah terus berlanjut sampai menjelang Shubuh. Akhirnya, istriku mengambil inisiatif meninggalkan rumah dan pergi ke rumah orang tuanya. Saya berusaha mengurungkan tekadnya tapi tidak berhasil, dia masuk kamar kami mempersiapkan tasnya untuk bergegas pergi. Saya meninggalkannya dan keluar dari rumah tanpa tahu kemana harus pergi, saya sangat emosional dan marah.</p>
<p>Di samping rumahku terdapat sebuah masjid dan adzan sebentar lagi dikumandangkan. Saya masuk masjid, berwudhu, dan shalat dua rakaat. Tak lama kemudian adzan Shubuh dikumandangkan, saya pun shalat Shubuh berjamaah. Saya diam di masjid, beristighfar kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla, dan keadaan itu terus berlangsung kurang lebih satu jam. Lalu saya bangkit pulang ke rumah dan membuka pintu ketika tiba-tiba istriku duduk menungguku dengan senyum.</p>
<p>Saya mengucapkan salam dan bertanya, &#8216;Kamu masih berkeras hati ingin pergi?&#8217; Dia berkata, &#8216;Tidak, saya menyesal atas apa yang telah saya perbuat.&#8217; Saya bergumam, &#8216;Ini aneh, apa yang telah terjadi?&#8217; Kemudian saya bertanya tentang rahasia di balik perubahan ini. Dia menjelaskan, &#8216;Demi Allah, saya tidak tahu&#8230; akan tetapi semenjak satu jam yang lalu jiwa saya menjadi tenang, dan saya sadar kalau saya salah lalu Allah menunjukiku.&#8217; Saya teringat waktu itu adalah bertepatan dengan waktu saya duduk beristighfar kepada Allah. Lalu saya ingat sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wassalam,</p>
<p>&#8220;Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah membuatkannya dari setiap kesusahan ada jalan keluar dan dari setiap kesempitan ada penyelesaian serta diberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.&#8217;</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam benar,</p>
<p>&#8220;Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).&#8221; (An-Najm: 3-4)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Keajaiban Sedekah &amp; Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah Muhammad Iqbal, Lc &amp; Jamaluddin), penerbit Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 135-137.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=139&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/amarah-sang-istri-reda-karena-istighfar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tukang Roti dan Istighfar</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/tukang-roti-dan-istighfar/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/tukang-roti-dan-istighfar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 13:59:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/tukang-roti-dan-istighfar/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini terjadi pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Imam Ahmad ingin menghabiskan malamnya di masjid, akan tetapi beliau dilarang menginap di masjid lewat perantara penjaga masjid. Imam Ahmad berusaham agar diizinkan namun sia-sia. Imam Ahmad berkata kepadanya, &#8220;Saya akan tidur di sini.&#8221; Dan benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempatnya itu. Maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=138&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini terjadi pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu. Imam Ahmad ingin menghabiskan malamnya di masjid, akan tetapi beliau dilarang menginap di masjid lewat perantara penjaga masjid. Imam Ahmad berusaham agar diizinkan namun sia-sia. Imam Ahmad berkata kepadanya, &#8220;Saya akan tidur di sini.&#8221;<span id="more-138"></span> Dan benar, Imam Ahmad bin Hanbal tidur di tempatnya itu. Maka penjaga masjid mengeluarkannya dari area masjid.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang syaikh yang berwibawa, terlihat padanya ciri-ciri kebaikan dan ketakwaan. Tiba-tiba beliau dilihat oleh seorang tukang roti. Melihat beliau seperti itu, dia menawarkan agar menginap di rumahnya. Lantas Imam Ahmad bin Hanbal mengikuti si tukang roti. Dia menjamu beliau kemudian beranjak pergi mengambil adonannya untuk membuat roti. Imam Ahmad mendengar si tukang roti beristihfar dan beristighfar.</p>
<p>Waktu berlalu lama, sementara dia tetap seperti itu (beristighfar), Imam Ahmad bin Hanbal keheranan. Ketika hari beranjak pagi, Imam Ahmad bertanya kepada sang tukang roti tentang istighfarnya semalam, dia menjawab bahwa selama mengadon tepungnya, dia mengadon sambil beristighfar.</p>
<p>Imam Ahmad bertanya kepadanya, &#8220;Apakah kamu mendapatkan buah dari istighfarmu?&#8221; Imam Ahmad bertanya kepada sang tukang roti dengan pertanyaan ini karena beliau tahu buah-buah istighfar, beliau tahu keutamaan istighfar, serta tahu faidah-faidah istighfar.</p>
<p>Tukang roti berkata, &#8220;Ya. Demi Allah, saya tidak memohon permohonan kecuali pasti dikabulkan, kecuali satu doa.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad bertanya, &#8220;Apa itu?&#8221;</p>
<p>Si tukang roti berkata, &#8220;(Permohonan untuk) melihat Imam Ahmad bin Hanbal!&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad berkata, &#8220;Saya Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, aku diseret kepadamu.&#8221;</p>
<p>&gt; Kisah ini disebutkan oleh al-Ustadz Amr Khalid</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Keajaiban Sedekah &amp; Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah Muhammad Iqbal, Lc &amp; Jamaluddin), penerbit Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 142-143.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=138&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/tukang-roti-dan-istighfar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istigfar dan Keberkahan Rizki</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/istigfar-dan-keberkahan-rizki/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/istigfar-dan-keberkahan-rizki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 13:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/istigfar-dan-keberkahan-rizki/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ikhwan pergi ke pasar untuk menjual dagangannya. Waktu itu pasar sesak dengan penjual dan pembeli. Dia duduk di tempat yang telah disiapkan untuk jualan dan menjajakan dagangannya, sementara itu ia duduk di dekatnya. Waktu berlalu lama tapi orang-orang tidak ada yang tertarik dengan barangnya. Orang-orang datang melihat kemudian pergi. Dia sangat membutuhkan uang dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=137&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ikhwan pergi ke pasar untuk menjual dagangannya. Waktu itu pasar sesak dengan penjual dan pembeli. Dia duduk di tempat yang telah disiapkan untuk jualan dan menjajakan dagangannya, sementara itu ia duduk di dekatnya. Waktu berlalu lama tapi orang-orang tidak ada yang tertarik dengan barangnya.<span id="more-137"></span> Orang-orang datang melihat kemudian pergi. Dia sangat membutuhkan uang dan mau tidak mau harus menjual barangnya ini. Waktu sudah lama, tapi tidak seorang pun yang mau membeli. Dia merasa sempit dan mulai berpikir, apa yang harus dia lakukan? Seketika muncul di ingatannya sebuah hadits yang pernah dia dengar dari imam masjid, dia berkata, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam bersabda,</p>
<p>&#8220;Barangsiapa memperbanyak istighfar, Allah membuatkannya dari setiap kesusahan ada jalan keluar dan dari setiap kesempitan ada penyelesaian, serta menganugerahinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.&#8221;</p>
<p>Dia pun mulai beristighfar dan beristighfar, dia bercerita, &#8220;Demi Allah, tatkala saya memulai istighfar orang-orang mulai datang kepadaku. Yang ini ingin membelinya dan yang lain lagi ingin agar dia yang membelinya. Yang ini menambah harga dan yang lain menaikkannya lagi. Sampai akhirnya saya merasa senang. Saya menjual habis daganganku dan alhamdulillah. Saya pulang ke rumah dengan membawa uang sementara kedua mataku meneteskan air mata karena saya telah banyak mengabaikan harta berharga ini (istighfar) dan alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.&#8221;</p>
<p>&gt; Kisah ini saya diceritakan langsung oleh seorang ikhwan secara lisan.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Keajaiban Sedekah &amp; Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah Muhammad Iqbal, Lc &amp; Jamaluddin), penerbit Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 134-135.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=137&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/12/05/istigfar-dan-keberkahan-rizki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Doa Ibunda</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/10/18/sepenggal-doa-ibunda/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/10/18/sepenggal-doa-ibunda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 04:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/10/18/sepenggal-doa-ibunda/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Masa silam saya kelam,&#8221; ucap anak muda itu mengenang masa lalunya. Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek. Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat wajahnya menyimpan keteduhan. &#8220;Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,&#8221; lanjut pemuda itu. Awal dirinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=133&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Masa silam saya kelam,&#8221; ucap anak muda itu mengenang masa lalunya. Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek. Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat wajahnya menyimpan keteduhan.<span id="more-133"></span></p>
<p>&#8220;Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,&#8221; lanjut pemuda itu. Awal dirinya berkenalan dengan barang-barang terlarang adalah dari teman bergaul. Beberapa teman sepermainan menyeretnya untuk coba-coba mengisapnya. Satu, dua kali hingga akhirnya menjadi candu. Dirinya menemukan suasana lain setelah mengonsumsi obat-obat tersebut, fly. Semakin hari, dari waktu ke waktu, intensitas pemakaian obat itu pun bertambah. Akhirnya, dia merasakan, apabila tidak mendapatkan obat terkutuk tersebut, dia merasa tersiksa.</p>
<p>&#8220;Bahkan, sampai saya harus menyilet lengan saya lalu saya isap darah yang keluar. Itu jika saya tak bisa mendapatkan barang setan tersebut,&#8221; tuturnya datar seraya memperlihatkan bagian kedua lengannya yang diiris-iris untuk diisap darahnya.</p>
<p>Beragam obat terlarang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Mulai yang diisap hingga yang disuntikkan. Saat itu, dirinya benar-benar terjerat sekawanan setan. Tidak bisa lepas. Teramat sangat sulit untuk memisahkan diri dari mereka. Setiap saat seakan-akan dirinya dikuntit, terus disodori barang-barang terlarang.</p>
<p>Nasihat dari orang tuanya tidak pernah dihiraukannya. Begitu pula nasihat dari saudara-saudara atau sanak famili, didengarnya, tetapi tidak pernah digubris. Ia pun tetap bergelut dengan narkoba. Bisik rayu setan lebih ampuh baginya dibandingkan dengan nasihat. Perangkap Iblis benar-benar mencengkeramnya.</p>
<p>&#8220;Karena saya tidak pernah menghiraukan nasihat, ada saudara orang tua saya yang mengusulkan agar saya tidak lagi diakui sebagai anak,&#8221; akunya. &#8220;Namun, ibu saya tidak setuju,&#8221; paparnya sendu mengenang hal itu.</p>
<p>Akibat perbuatannya, nama baik keluarga tercoreng di hadapan masyarakat. Apalagi ibunya adalah seorang pegiat dakwah. Ibunya sering diminta mengisi berbagai pengajian. Tidak sedikit masyarakat yang mencemooh dan melecehkan orang tuanya, terutama ibunya. Bisa mengajari orang lain, tetapi anak kandungnya sendiri terjerat nafsu setan. Begitulah di antara kata-kata yang terlontar.</p>
<p>Sungguh, orang tuanya benar-benar sedang diuji. Tidak mengherankan apabila saudara-saudaranya mengusulkan agar dirinya dibuang, dikeluarkan dari anggota keluarga, dan tidak diakui lagi sebagai anak. Ini semua karena beratnya menanggung malu. Ya, malu karena nama baik keluarga tercoreng.</p>
<p>Di tengah cemooh, cercaan, dan hinaan sebagian orang, ibunya tetap sabar. &#8220;Setiap ada waktu, ibu selalu menasihati saya. Ibu selalu memberi kelembutan kepada saya,&#8221; kenangnya. Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata. Ia berupaya tegar saat mengenang ibunya yang penyabar. Anak muda itu menghela napas panjang. Suasana sunyi. Daun di pepohonan bergoyang tersentuh angin. Langit biru tersaput tipis awan putih.</p>
<p>Satu malam, ibunya terbangun. Seperti biasa, ibunya menunaikan shalat tahajud. Malam demi malam dilaluinya dengan munajat kepada Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala. Malam demi malam ditaburinya dengan rukuk, sujud, zikir, dan doa. &#8220;Saat ibu tengah bermunajat, saya terbangun. Saya tatap ibu yang terselubung mukena putih. Seakan-akan mata tak mau berkedip. Saya tatap terus ibu,&#8221; ucapnya sungguh-sungguh.</p>
<p>Ia melanjutkan, &#8220;Saat saya menatap ibu, saya seperti diingatkan. Malam itu, kesadaran menyelinap ke dalam hati. Malam itu, saya bertobat,&#8221; kisahnya mengenang detik-detik tobatnya.</p>
<p>Sejak peristiwa itu, kehidupan anak muda tersebut berubah drastis. Semangat hidupnya mencuat kembali. Kepedulian terhadap agama pun tumbuh. Ibadahnya mulai berlangsung teratur. Pemuda itu telah insaf, meniti kembali jalan yang benar. Kegelapan yang selama ini menyelimuti, sirna. Ia berada dalam cahaya terang benderang. Ia yakin, semua ini tak luput dari sepenggal doa ibunda, setelah kehendak Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Kisah di atas nyata, diungkapkan langsung kepada penulis sekitar tahun 1980-an.</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam bersabda,</p>
<p>&#8220;Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang safar (dalam perjalanan), dan doa orang tua terhadap anaknya.&#8221; (HR. At-Tirmidzi no. 3448 dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullahu dalam ash-Shahihah no. 598 dan 1797)</p>
<p>[kisah ini diambil dari tulisan panjang Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin berjudul: Sepenggal Doa Ibunda, dalam majalah Asy Syariah no. 76/VII/1432 H/2011, hal. 29-30]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=133&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/10/18/sepenggal-doa-ibunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Rumah yang Tidak Pernah Dimasuki oleh Dokter</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/rumah-yang-tidak-pernah-dimasuki-dokter/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/rumah-yang-tidak-pernah-dimasuki-dokter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 22:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/rumah-yang-tidak-pernah-dimasuki-dokter/</guid>
		<description><![CDATA[Seri: Keajaiban Sedekah Pelaku kisah ini menuturkan tentang kisah dirinya seraya bercerita, &#8220;Kami adalah sebuah keluarga yang terdiri dari beberapa anak. Kami hidup bersama kedua orang tua dalam rumah yang sederhana. Tingkat ekonomi keluarga kami sangatlah rendah sekali, namun segala puji hanya milik Allah, kami hidup dengan berpuas diri dan qana&#8217;ah dengan apa yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=130&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seri: Keajaiban Sedekah</strong></p>
<p>Pelaku kisah ini menuturkan tentang kisah dirinya seraya bercerita, &#8220;Kami adalah sebuah keluarga yang terdiri dari beberapa anak. Kami hidup bersama kedua orang tua dalam rumah yang sederhana. Tingkat ekonomi keluarga kami sangatlah rendah sekali, namun segala puji hanya milik Allah, kami hidup dengan berpuas diri dan qana&#8217;ah dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kami.&#8221;<span id="more-130"></span></p>
<p>Dia melanjutkan kisahnya, &#8220;Anggota keluarga telah sepakat untuk membuat suatu kotak di dalam rumah yang diberi nama &#8220;kotak sedekah&#8221;, di mana setiap anggota keluarga memasukkan sejumlah uang setiap bulannya dalam kotak tersebut, masing-masing sesuai daya dan kemampuannya, kemudian mereka semua akan mengeluarkan isi dari kotak tersebut selama satu periode waktu tertentu lalu memberikannya kepada fakir miskin.&#8221;</p>
<p>Dia melanjutkan, &#8220;Apabila ada salah satu anggota keluarga yang sakit atau tertimpa kesulitan dalam suatu urusan, maka kami bersedekah dengan tabungan yang ada dalam kotak tersebut, dengan niat agar Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala menyembuhkan anggota keluarga kami yang sakit tersebut atau memudahkan urusannya. Dan ternyata hasilnya adalah kesembuhan anggota keluarga yang sakit dengan seizin Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala, dan adanya kemudahan yang diberikan oleh Allah dalam urusan yang sulit tadi dengan seizin-Nya pula, dan tidaklah saya berlebih-lebihan bila saya berkata bahwa rumah kami, dengan segala puji hanya milik Allah, tidaklah pernah dimasuki oleh seorang dokter pun.&#8221;</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Keajaiban Sedekah &amp; Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah: Muhammad Iqbal, Lc. &amp; Jamaluddin), penerbit: Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 61-62.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=130&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/rumah-yang-tidak-pernah-dimasuki-dokter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batu Ginjal dan Sedekah</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/batu-ginjal-dan-sedekah/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/batu-ginjal-dan-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 21:03:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/batu-ginjal-dan-sedekah/</guid>
		<description><![CDATA[Seri: Keajaiban Sedekah Seorang ayah mengeluh disebabkan sakit yang tiba-tiba yang tidak diketahui penyebabnya. Dia masih mengerang kesakitan dikarenakan sakitnya yang luar biasa. Anaknya membawanya ke dokter untuk mengetahui penyebab sakitnya tersebut, lalu dokter mulai memeriksa penyakitnya, dan ternyata hasilnya adalah ditemukannya batu dalam ginjalnya, di mana batu itu harus dikeluarkan melalui operasi bedah. Ayah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=129&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Seri: Keajaiban Sedekah</strong></p>
<p>Seorang ayah mengeluh disebabkan sakit yang tiba-tiba yang tidak diketahui penyebabnya. Dia masih mengerang kesakitan dikarenakan sakitnya yang luar biasa. Anaknya membawanya ke dokter untuk mengetahui penyebab sakitnya tersebut, lalu dokter mulai memeriksa penyakitnya, dan ternyata hasilnya adalah<span id="more-129"></span> ditemukannya batu dalam ginjalnya, di mana batu itu harus dikeluarkan melalui operasi bedah. Ayah dan anak tersebut kemudian kembali ke rumah untuk mempersiapkan operasi.</p>
<p>Pada pagi harinya, anak tersebut pergi menuju tempat kerjanya di mana ia baru memasukinya sebulan lalu, dan hari itu adalah akhir bulan saat anak tersebut menerima gaji. Dia merasa senang sekali menerima gajinya, karena itu adalah gaji pertama yang dia dapatkan dari pekerjaan barunya. Di saat dia pulang ke rumahnya, dia melihat seorang fakir yang berpenampilan buruk dan tua renta serta nampak kelelahan.</p>
<p>Anak itu mulai memerhatikan kondisi tersebut, tiba-tiba dia menetapkan suatu tindakan dengan cepat, bahwa dia harus menyedekahkan seluruh gajinya yang baru diperolehnya itu kepada pengemis tersebut dengan niat agar Allah menyembuhkan penyakit ayahnya.</p>
<p>Dan benarlah, dia mengeluarkan uang tersebut lalu memberikannya kepada pengemis itu, kemudian dia pulang ke rumahnya dan mengetuk pintu, tiba-tiba ayahnya membuka pintu untuknya, di wajahnya terlihat kebahagiaan dan kegembiraan, lalu dia berkata kepada anaknya, &#8220;Wahai anakku, segala puji hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah, baru saja saya merasakan sakit yang luar biasa lalu saya pergi ke kamar mandi untuk buang air hingga jatuhlah batu tersebut, dan sekarang saya telah merasakan kelegaan yang luar biasa.&#8221;</p>
<p>Menangislah anak tersebut karena bahagia, dan memuji Allah &#8216;Azza wa Jalla. Benarlah sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wassalam yang mulia: &#8220;Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.&#8221;</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Keajaiban Sedekah &amp; Istighfar karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam (penerjemah: Muhammad Iqbal, Lc. &amp; Jamaluddin), penerbit: Darul Haq cet. V, Rajab 1429 H/Agustus 2008 M, hal. 59-61.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=129&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/09/15/batu-ginjal-dan-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KECUALI PINTU LANGIT SAJA: anakku mulai menerima berbagai jenis suntikan, sementara ia memelas-melas kepadaku&#8230;</title>
		<link>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/07/04/kecuali-pintu-langit-saja-anakku-mulai-menerima-berbagai-jenis-suntikan-sementara-ia-memelas-melas-kepadaku/</link>
		<comments>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/07/04/kecuali-pintu-langit-saja-anakku-mulai-menerima-berbagai-jenis-suntikan-sementara-ia-memelas-melas-kepadaku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jul 2011 02:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menujuhidayah.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang ulama as-Salaf berkata: &#8220;Ada sebagian dosa yang hanya dapat diampuni dengan kesedihan terhadap anak istri..&#8221; Seseorang menceritakan kepadaku untuk meyakinkan hal itu: &#8220;Sesungguhnya keluarga adalah penyumpal kenyataan ini, bukan sekedar rajutan khayal, bukan pula sebuah dongeng. Aku adalah seorang ayah. Anakku selalu mencari fokus pembicaraan. Usai bulan Ramadhan, dan seiring dengan kedatangan hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=122&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah seorang ulama as-Salaf berkata: &#8220;Ada sebagian dosa yang hanya dapat diampuni dengan kesedihan terhadap anak istri..&#8221;</p>
<p>Seseorang menceritakan kepadaku untuk meyakinkan hal itu: &#8220;Sesungguhnya keluarga adalah penyumpal kenyataan ini, bukan sekedar rajutan khayal, bukan pula sebuah dongeng. Aku adalah seorang ayah. Anakku selalu mencari fokus pembicaraan.<span id="more-122"></span> Usai bulan Ramadhan, dan seiring dengan kedatangan hari Ied, kuperhatikan bahwa anakku Abdullah yang baru berusia 2 tahun setengah terlihat lemah sekali, dan panas tubuhnya meningkat drastis. Senyumannya sirna, dan kecerahan wajahnya terlihat layu. Ia belum terbilang mahir berjalan, namun kini justru menjadi lemah secara tiba-tiba. Pandangannya kosong dan suaranya terputus-putus, mencari tempat untuk berbaring&#8230;</p>
<p>Kami segera mengompres dan memberinya obat penenang sambil berusaha mencari dokter. Tetapi panas tubuhnya kembali meningkat. Tak ada pilihan lain, tidak ada lagi waktu untuk bermusyarah&#8230;</p>
<p>Semua rumah sakit segera tergambar dalam benakku. Tetapi kami sekarang dalam liburan, maka kami pun memutuskan untuk mencari dokter jaga. Aku berkata kepada ibunya sambil menggendong anak tersebut: &#8220;Jangan khawatir. Anak-anak biasa seperti itu.&#8221; Aku terus berbicara untuk menenangkan jiwanya sebelum menutup pintu. &#8220;Anak kecil itu mudah sekali terkena penyakit, namun juga mudah sembuh. Tenangkan pikiranmu dan bertawakallah kepada Allah..&#8221;</p>
<p>Setelah berjalan tersendat-sendat karena kemacetan, sinar dari luar menyilaukan matamu. Kemudian engkau masuk ke dunia lain, menaiki jenjang-jenjang rumah sakit&#8230;</p>
<p>Dunia yang lambat, menyembunyikan segala senyuman. Tidak ada tempat di situ buat kesombongan dan sikap semena-mena. Manusia dalam dunia ini amat lemah, lemah sekali. Ada yang tertunduk kepalanya, ada yang memegangi perutnya dengan kedua tangannya, ada lagi yang mengerang dengan rintihan yang mencegah kesunyian, namun tidak diketahui mana orangnya..</p>
<p>Adapun orang-orang yang terluka dan darah yang mengucur, bisa engkau lihat setiap saat, diawali dengan suara mobil ambulance di luar rumah sakit, tak lama kemudian engkau akan melihat dengan mata kepalamu.</p>
<p>Engkau tidak mengingat bahwa ada yang dinamakan dengan kondisi sehat wal afiat, kecuali bila engkau telah berada di tempat ini.</p>
<p>Di pojok kamar, terdapat orang tua berumur delapan puluh tahunan, seorang yang lanjut usia terlihat sudah kehilangan segala sesuatu!!</p>
<p>Pandangannya kosong, ke kiri dan ke kanan, mencari di mana dokter, mencari obat. Engkau tidak akan merasakan kenikmatan sehat, kecuali bila engkau melihat dan menyaksikan kejadian itu&#8230; Bisa jadi engkau akan melihat orang yang tampak sehat, tetapi berjalan lambat dan melompat-lompat seperti hendak menyeberangi lautan di mana orang-orang yang sakit&#8230; Kondisi putraku menjadi ringan bagiku, begitu kulihat bahwa rasa sakit itu ternyata memeras kondisi semua orang di situ..</p>
<p>Kami diberi berbagai macam obat. Aku sudah mencium bau kesehatan ketika keluar dari rumah sakit itu..</p>
<p>Pada hari pertama, kesehatannya sudah membaik sedikit. Namun setelah obat habis, panas itu datang lagi. Kami pun kembali ke dokter. Ketika aku menjelaskan kondisi anaakku, terlihat dalam pandangan mataku kegelisahan dan kegoncangan. Dokter itu berusaha menenangkan diriku: &#8220;Jangan khawatir.&#8221; Lalu dia memberikan kepada kami obat-obatan yang sama seperti sebelumnya..!!</p>
<p>Kami gembira membawa obat tersebut. Namun kondisinya kembali seperti sebelumnya. Berulang-ulang kami berobat ke sana selama lima minggu berturut-turut, namun tidak ada hasilnya. Aku mulai dirundung rasa takut, sementara ibunya lebih takut lagi. Pembicaraan kami tinggal: Anak kita mulai melemah dan berkurang selera makannya. Berjalanpun ia lambat dan merasa sakit di tulang-tulangnya. Ibunya melihat wajahnya pucat sekali&#8230;</p>
<p>Dengan kondisi begini ia tidak hanya membutuhkan konsumsi obat dan pemeriksaan segera saja, tetapi harus diopname dan pemeriksaan lengkap. Aku merasa bahwa ada sesuatu, dan pasti ada hari-hari panjang yang menunggu kami. Aku mencium keningnya dan membawanya ke bagian rawat inap. Anakku mulai menerima berbagai jenis suntikan, sementara ia memelas-melas kepadaku. Aku hanya dapat memeganginya dengan kuat dan menyerahkannya untuk menerima suntikan&#8230;</p>
<p>Suaranya melengking keras, rintihannya pun terdengar kuat, sementara air matanya mengalir dan berjatuhan di tanganku, dan aku tetap memeganginya..</p>
<p>Air mata itu seolah berbicara kepadaku: &#8220;Kebekuan hati macam apa ini wahai ayahku?&#8221; Ada sesuatu dalam hatiku yang terbakar, dan dalam dadaku terasa jantungku mencair&#8230;</p>
<p>Air matamu wahai anakku, hanyalah sebuah titik di lautan luas. Wahai anakku, aku bukanlah patung dan hatiku bukanlah batu..</p>
<p>Beberapa hari berlalu sementara kami menanti-nanti. Setiap kali dokter menemui kami, kami selalu berusaha mendengar jawaban darinya. Kami menantikan kalimat yang dapat memberi harapan. Lukanya telah diobati. Namun meski banyak sudah pemeriksaan dilakukan, tidak juga membawa hasil!! Satu-satunya jawaban adalah, penyakit dalam darah..</p>
<p>Penurunan kesehatan anakku semakin bertambah, sehingga tidak mampu lagi untuk duduk, apalagi berdiri. Pandangan matanya yang tajam mengejarku terus setiap kali aku menghadap ke arahnya. Ada pertanyaan di kedua belah matanya: &#8220;Kapan aku keluar dari sini?&#8221;</p>
<p>Sinar harapan akan kesembuhannya mulai mengabur, ketika aku mendengar dokter itu berbicara kepada temannya: &#8220;Meskipun tubuhnya lemah sekali, tetapi kita tidak dapat mentransfusi darah kepadanya, karena itu akan mempengaruhi hasil pemeriksaan..</p>
<p>Dalam kondisi demikian, hari-hari berjalan lambat sekali, sementara anakku mulai kehilangan hidupnya&#8230; Dokter meminta kepada kami untuk memeriksakan sumsum tulangnya, karena itu ibarat pabrik darah bagi manusia.</p>
<p>Aku pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu lagi, sementara hatiku bagaikan diperas menahan sakit, ketika aku melihat kepalanya. Tulang tengkoraknya kecil. Aku merasakan bulatan kepalanya itu dengan tanganku, seolah-olah aku mencari kesembuhan itu sendiri..</p>
<p>Setelah anakku dibius, diambillah sampel sumsum tulangnya. Dokter memintaku untuk memeriksakan ke rumah sakit spesialis. Aku berjalan membawa sampel sumsum itu. Mataku melotot sementara hatiku bergantung kepada Rabb dari langit ini, aku tidak lagi merasakan nikmatnya hidup dan nyamannya tidur&#8230;</p>
<p>Aku menyerahkan sampel itu kepada petugas laboratarium yang sudah disertai oleh jenis pemeriksaan yang dibutuhkan. Aku pun gembira. Mudah-mudahan hasil pemeriksaan ini dapat menghilangkan sakit yang dirasakannya.</p>
<p>Pada hari kedua, setelah masa-masa berlalu dengan lambat sementara detak jantungku berlomba dengan detak jarum jam. Aku tidak mampu lagi memikirkan segala sesuatu.</p>
<p>Aku menerima gagang telepon itu. Mudah-mudahan hasilnya sudah didapat. Aku menanti-nanti kesembuhan anakku&#8230;</p>
<p>Telingaku kembali lagi dapat mendengar dendang tawanya. Aku juga ingat bagaimana ia berlari untuk menyambut diriku, juga ketika ia duduk di atas punggungku dan juga ciumannya di keningku.</p>
<p>Dalam lantunan kegembiraan, ia menjawab dengan kata-kata yang meresahkan yang telah mencabik-cabik angan-anganku, mencerai-beraikan mimpi-mimpiku, memancarkan darahku di pembuluh darahku dan meninggalkan gemanya berbunyi di telingaku. Hatiku trenyuh dan air mataku pun berderai. Namun aku mengangkat jariku sambil berujar: &#8220;Alhamdulillah&#8230;&#8221;</p>
<p>Dokter berkata: &#8220;Penyakit anakmu adalah kanker darah&#8230;&#8221;</p>
<p>Berjalanlah waktu yang panjang, beku dan penuh kedukaan. Dunia terasa redup di pandangan mataku. Kedua kakiku tak mampu melangkah, seolah-olah jalan dihadapanku adalah jalan buntu, pintu-pintu tertutup, akan tetapi aku teringat masih ada satu pintu yang terbuka: pintu langit&#8230;</p>
<p>Aku gembira dengan keteguhan ini..</p>
<p>Alhamdulillah dan terus aku lanjutkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji&#8217;un. Jiwaku menyusul dan bergerak dengan berat. Dalam otakku berputar beberapa pertanyaan yang memiliki permulaan namun tidak pernah berakhir: &#8220;Sebentar lagi aku akan berpisah dengan anakku, bagaimana aku mengabarkan ini kepada ibu dan saudara-saudaranya? Bahkan bagaimana aku memandang kepadanya? Apakah dengan pandangan perpisahan? Atau dengan pandangan harapan? Berbagai pertanyaan datang silih berganti dan susul-menyusul mengetuk hatiku. Kemudian datang satu pertanyaan yang membuatku beranjak dari tempatku. Aku melompat dan berlari dengan kuat: &#8220;Apakah aku akan berjumpa dengannya di rumah sakit? Atau ia sudah meninggal dunia?&#8221;</p>
<p>Berbagai perasaan saling tindah menindih. Berbagai pertanyaan saling mengguntur. Aku membawa kakiku untuk berjalan di lorong-lorong rumah sakit sambil mengumpulkan kekuatan untuk berbicara..</p>
<p>Ibunya ada di sisinya dengan kegembiraan. Kabar gembira? Apa hasilnya?</p>
<p>Jawaban bagi kebingunganku lebih besar dari kebingungannya. Kebutuhanku untuk diam membungkam lebih besar dari kebutuhannya akan jawaban. Kelayuan dan kesuraman membayang di tempat tidur lagi. Aku menanti dengan cemas waktu demi waktu, menit demi menit. Kemudian ia akan diangkut ke Riyadh. Sedetik rasa bertahun-tahun dan semenit rasa berwindu-windu, berlalu dengan lambat dan berat. Akhirnya setelah lelah dan capek, ia pun dipindahkan&#8230;</p>
<p>Pada sore hari yang panjang, dan dalam sebuah perbincangan yang panjang pula..</p>
<p>Kesedihan menyelimuti sekeliling kami, rasa sakit seolah menegakkan panjinya di hati kami. Besok hari Raya Iedul Adha&#8230;</p>
<p>Satu waktu antara dua hari Raya Ied, seolah terdapat satu Ied lagi, yang dalam kondisi bagaimanapun engkau pasti datang, wahai Ied.</p>
<p>Bersabarlah dan berharaplah pahala dari Allah. Apapun yang ditakdirkan oleh Allah pasti akan terjadi. Aku mengusap kesedihan dari hatiku dan berdoa kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doaku akan dikabulkan..</p>
<p>Pada hari kedua setelah Ied&#8230;</p>
<p>Terdengar teriakan anak-anak kecil yang mengusik telingaku, juga suara bercakap-cakap memperingatkan kegembiraan hati, ditambah ucapan selamat dari setiap lisan kaum muslimin&#8230;</p>
<p>Masalah yang dialami oleh Abdullah anakku berbeda. Ia justru meringkuk di tempat tidur menahan sakit. Aku memandanginya ketika ia sedang berbaring di atas kasurnya, berbolak-balik, tidak dapat bergerak bebas. Ia membuka kedua matanya dengan susah untuk menyakinkan bahwa aku ada di situ. Pandangan yang sulit dimengerti maksudnya. Aku mengusap air mata yang mengalir dari mataku karena melihatnya. Kondisi dan rasa sakit yang kualami bercerita:</p>
<p>Ketabahan enggan menerima segala tanda-tanda musibah yang kusaksikan</p>
<p>Aku melihat segala tali selain tali-Mu ya Allah pasti terputus</p>
<p>Setiap kali aku berdoa dengan menyebut nama-Mu tidak juga Engkau kabulkan</p>
<p>Padahal aku pantas untuk Engkau lihat dan Engkau dengarkan</p>
<p>Pada hari ini pengobatan secara kimiawi dilakukan terhadap anakku. Tahukah pembaca apa yang dimaksudkan dengan pengobatan kimiawi?</p>
<p>Yakni suntikan bercampur gizi makanan yang dimasukkan melalui darah untuk menghancurkan sel-sel busuk dan diganti dengan sel-sel bagus. Pengobatan itu membutuhkan waktu lama dan intensif selama tiga tahun..</p>
<p>Selama tiga bulan anakku dibius total untuk bergulat dengan penyakit dan agar tidak merasakan rasa sakit obat kimia itu selama tiga pekan. Akhirnya ada perkembangan baik sedikit. Ia mulai dapat berjalan dengan lambat dan gemetar. Dokter menyatakan kepada kami bahwa ada harapan ia akan diobati di kota kami itu. Dia melihat kesulitan yang kualami selama tinggal sendirian dengan anakku, sementara ibu dan saudara-saudaranya di sana.</p>
<p>Aku segera membawa anakku meninggalkan rumah sakit. Rasa duka dan kegundahan menggiring diriku. Seorang anak yang sedang bergulat dengan maut, dan di sana seorang ibu yang sedang bergulat dengan kesedihan, di sini seorang ayah sedang bergulat dengan hidupnya. Ada satu pertanyaan di mata anakku: &#8220;Kemana lagi engkau akan membawaku wahai ayahku? Tidakkah engkau lelah menggotongku? Kita hendak pergi ke rumah sakit lain, atau ke rumah kita saja? Aku ingin melihat ibuku&#8230;&#8221;</p>
<p>Kami tinggal sebentar saja, lalu kami terpaksa kembali lagi setelah dua bulan. Satu minggu setelah kami tinggal di rumah sakit, kami melakukan pemeriksaan lagi..</p>
<p>Kegembiraan masih memberi tempat, dan kebahagiaan mengelilingi kami. Akan tetapi datang hal yang mengejutkan kami&#8230; Penyakit anakku kembali kambuh, fase yang menyebabkan datangnya kekhawatiran.</p>
<p>Aku terserang goncangan yang memeras perasaan. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus berbuat? Sel-sel kanker itu kembali aktif. Harus diadakan pengobatan ulang dari awal lagi. Harus diulang lagi program pengobatan itu dari awal, dengan lebih intensif lagi..</p>
<p>Dokter itupun terpengaruh ketika membaca hasil pemeriksaan. Kemudian ia berkata seolah-olah meneriakkan rasa sakit anakku: &#8220;Kalau anda mau, biar pengobatan itu kita mulai lagi dari awal di sini, atau kembali ke Jeddah.&#8221; &#8220;Lebik baik kembali ke Jeddah saja,&#8221; jawabku.</p>
<p>Aku memegangi hasil pemeriksaan anakku itu dan membawa anakku ke luar rumah sakit tersebut. Suara dokter menyusulku dengan cepat: &#8220;Jangan lupa segera memberi pengobatan dan jangan melalaikannya. Kondisi anak itu mengkhawatirkan.&#8221;</p>
<p>Aku mengetuk pintu rumah sakit-rumah sakit&#8230;</p>
<p>Anakku harus menanggung suntikan yang tidak biasa diterima oleh orang besar sekalipun. Tak ada lokasi baru pada tubuhnya yang belum tersentuh jarum suntik. Dokter sendiri sampai bingung di mana lagi ia harus menusukkan jarum suntiknya. Anakku harus menanggung rasa sakit, jauh dari ibu dan saudara-saudaranya yang banyak, mengenali muka-muka dokter dan bermacam-macam obat..</p>
<p>Adapun aku sendiri, juga sudah hafal berbagai rumah sakit. Karena semuanya sudah menjadi tempat tinggalku sehari-hari. Tangis, teriakan dan jeritan anakku ketika ia meminta tolong, sudah tidak berarti lagi bagiku. Ia biasa meminta tolong kepadaku karena saking sakitnya. Tetapi aku tidak memiliki daya apa-apa wahai anakku..</p>
<p>Semua pintu sudah diketuk, kecuali pintu Allah. Segala pintu juga sudah tertutup, kecuali pintu Allah&#8230;</p>
<p>&#8220;Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan..&#8221; (An-Naml: 62)</p>
<p>Pada saat itu aku mendengar ada seorang Syaikh yang sudah biasa mengobati dengan ruqyah Al-Qur&#8217;an. Sebagian rekan mengusulkan aku untuk mencobanya. Alhamdulillah, ruqyah dengan Al-Qur&#8217;an memang obat,.</p>
<p>Namun hawa nafsu mendebatku. Banyak yang harus dipikirkan. Pikiranku sendiri menjadi bercabang-cabang. Bagaimana aku akan meninggalkan kedokteran modern? Bisa jadi, bisa jadi?</p>
<p>Sebelum pergi, aku beristikharah meminta pilihan dari Allah..</p>
<p>Malam itu aku tidur dan dalam tidurku aku bermimpi bahwa aku berdiri di pinggir lautan. Dan air di pinggir laut itu dangkal. Pada bagian tertentu terdapat tanah yang menonjol tampak oleh mata, tidak tersentuh air laut. Tiba-tiba terlihat lubang di bawah lautan, keluar dari laut itu yang biasa disebut sebagai kepiting laut (Sea Cancer) dan pergi jauh-jauh.</p>
<p>Aku bangun dari tidur. Pada malam itu, jiwaku sudah menjauh dari rasa takut akan kambuhnya penyakit anakku itu. Aku mengabarkan mimpi itu kepada orang yang kupercaya&#8230;</p>
<p>Ia berkata: &#8220;Bergembiralah, mudah-mudahan itu kebaikan bagimu insya Allah. Tanah dalam mimpi adalah manusia. Sementara kepiting yang keluar itu adalah penyakit yang keluar darinya insya Allah.&#8221;</p>
<p>Aku terima kabar gembira itu. Aku pun memutuskan untuk pergi menemui ulama yang biasa membacakan ruqyah itu untuk meruqyah anakku dengan Al-Qur&#8217;an&#8230;</p>
<p>Di tengah penuh sesak orang-orang yang sakit, terdapat kenyamanan jiwa yang kurasakan. Kisah-kisah kesembuhan menghiasi tempat itu&#8230;</p>
<p>Sinar harapan itu tampak mulai melongok diriku. Awan kebajikan mulai menaungi diriku..</p>
<p>Selesai sudah pembacaan Al-Qur&#8217;an kepada anakku. Ia meminta kepadaku untuk mengulanginya sebanyak tiga kali setiap minggu. Ia juga meminta diriku untuk turut juga membacakan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an kepadanya..</p>
<p>Aku memutuskan untuk berhenti berobat ke rumah sakit, karena aku tidak bisa mengajaknya keluar selama mulai menjalankan pengobatan kimiawi..</p>
<p>Tiga minggu pun berlalu. Pada masa itu, kondisi anakku membaik. Setiap waktu pengobatan, aku pergi dari Jeddah ke Riyadh, kemudian kembali lagi. Aku menanggung rasa lelah dan kesulitan yang besar sekali..</p>
<p>Tatkala selesai waktu pengobatan ruqyah yaitu selama tiga minggu. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Tetapi harus menunggu hingga ada kamar kosong..</p>
<p>Aku mendaftarkan nomor teleponku di rumah sakit itu, dan aku pun diberikan dispensasi untuk masuk, karena aku sudah terlambat untuk berobat. Anakku itupun dimasukkan, dan kata mereka, tidak boleh membuang-buang waktu meskipun satu menit&#8230;</p>
<p>Beberapa hari berlalu&#8230;</p>
<p>Tiba-tiba telepon berdering. &#8220;Coba anda datang. Kami ingin mengambil contoh sumsum tulang anak anda. Hendaknya ia berpuasa. Aku pun membawa anakku. Aku bingung, diiringi pula oleh rasa sakit yang dialami anakku yang masih kecil dan teriakannya&#8230; Aku pergi ke rumah sakit. Aku juga berdoa kepada Allah agar tidak kembali ke rumah sakit itu sekali lagi..</p>
<p>Contoh sumsum itupun diambil. Aku pun kembali ke rumah&#8230; Masalah kami sekarang ini: antara pemeriksaan dan hasilnya. Satu minggu penuh&#8230; Kami membiarkan urusan itu untuk diselesaikan: Apa yang akan terjadi? Di mana? Dan bagaimana?</p>
<p>Di lokasi pemeriksaan, kakiku melangkah cepat. Aku merasa bahwa ada kebaikan yang menantikanku di sana&#8230;</p>
<p>Aku duduk bersama dokter untuk bertanya kepadanya. Dan jawabannya sungguh menggetarkan lubuk hatiku yang paling dalam. Aku meyakinkan diriku bahwa aku dalam keadaan sadar ketika mendengar ucapannya. Membuat lemah pendengaranku dan menentramkan anggota-anggota tubuhku. Pada masa di mana sudah tidak ada lagi kesempatan bagi kegembiraan dalam hatiku, aku mencari anakku ke kanan dan ke kiri untuk menciumnya, untuk melihat kedua matanya, dan untuk mengusap air mataku&#8230;</p>
<p>Aku menoleh mencari tempat untuk melakukan sujud syukur kepada Allah. Siapa yang lebih berhak untuk mendapatkan selain Allah?</p>
<p>&#8220;Setelah mengalami kekambuhan kira-kira berbilion-bilion sel, kini tidak ada lagi bekas dari sel-sel penyakit kanker itu.&#8221;</p>
<p>Dokter itu melanjutkan: &#8220;Itu disebut sebagai kondisi tersembunyi. Yakni tidak tampaknya sel-sel itu ketika diperiksa. Itu harus dicermati, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Aku pun keluar&#8230;</p>
<p>Aku menoleh untuk mencari telepon dan mengabarkannya kepada istriku. Tetapi langkah-langkahku lebih cepat daripada pandanganku..</p>
<p>Aku memuji Allah atas kenikmatan Islam, kenikmatan diturunkannya Al-Qur&#8217;an. Air mata kesedihan telah mengalir di hari-hariku yang panjang.</p>
<p>Adapun sekarang, bukan sekedar air mata kegembiraan semata, bahkan air mata kegembiraan dan rasa syukur.</p>
<p>Aku mengembalikan ingatanku:</p>
<p>&#8220;Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur&#8217;an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.&#8221; (Fushshilat: 53)</p>
<p>Aku melihat bukti ayat itu dalam diriku, dan aku hidup bersamanya dalam rumahku&#8230;</p>
<p>Di sini, di antara tumpukan hasil pemeriksaan medis, di antara angka-angka dan berbagai berkas pemeriksaan lainnya&#8230;</p>
<p>Di antara tangisan anak dan kesedihan ibunya, juga kedukaan sang ayah&#8230;</p>
<p>Maha Benar Allah Subhanallahu wa Ta&#8217;ala yang telah berfirman:</p>
<p>&#8220;Kami turunkan dalam Al-Qur&#8217;an itu penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin&#8230;&#8221; (Al-Isra&#8217;: 82)</p>
<p><strong>Sumber:</strong> Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. I, Ramadhan 1422 H /2001 M, hal. 240-255.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menujuhidayah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menujuhidayah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menujuhidayah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menujuhidayah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menujuhidayah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menujuhidayah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menujuhidayah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menujuhidayah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menujuhidayah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menujuhidayah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menujuhidayah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menujuhidayah.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menujuhidayah.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menujuhidayah.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menujuhidayah.wordpress.com&#038;blog=15601343&#038;post=122&#038;subd=menujuhidayah&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menujuhidayah.wordpress.com/2011/07/04/kecuali-pintu-langit-saja-anakku-mulai-menerima-berbagai-jenis-suntikan-sementara-ia-memelas-melas-kepadaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Fadhl Ihsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
