MEMBANGUNKAN HATI YANG TERTIDUR : caranya mengingatkanku akan kematian sungguh tak terduga..

Ada orang berkata kepada Hasan Al-Bashri: “Apa yang harus kami perbuat, ketika kami duduk-duduk dengan sekelompok orang yang menakut-nakuti kami sehingga hati kami bagaikan terbang?”

Beliau menjawab: “Demi Allah. Bila engkau bergaul dengan sekelompok orang yang menakut-nakuti dirimu hingga akhirnya engkau mendapatkan ketenangan, itu lebih baik daripada bila engkau bersahabat dengan suatu kaum yang memberimu rasa aman hingga akhirnya engkau merasa takut….”

Setiapkali ia berbicara, persoalan kematian selalu terucap oleh lisannya. “Si Fulan begini, lalu meninggal dunia, si Fulan juga meninggal dunia….”

Dalam suatu kesempatan aku bertanya kepadanya: “Apakah engkau tidak lelah mengulang-ulang berbicara tentang kematian?”

Dengan lembut, ia berkata: “Kematian itu cukup menjadi peringatan…”

Suatu hari aku meneleponnya: “Kami akan mengunjungimu pada akhir pekan, tetapi dengan syarat, jangan melelahkan dirimu sendiri…” “Capek demi kamu adalah kesenangan. Engkau memiliki kecintaan dalam hatiku…,” potongnya. Aku menambahkan persyaratan lain: “Jangan engkau berbicara tentang…” “Kematian,” katanya mendahuluiku. Akhirnya ia setuju, setelah saling berbicara diselingi dengan kegembiraan…

Aku melanjutkan: “Bila aku meninggal dunia, jangan ceritakan kisah kematianku.” Jawabannya: “Sudah kukatakan, bahwa bila mereka memuji kehidupan, mereka akan banyak menyebut kematian dengan seribu keutamaan yang tidak diketahui…”

Istriku memberitahu tentang janji kunjungan tersebut. “Ia amat gembira ketika kuberitahukan hal itu,” kata istriku. Aku tersenyum dan berkata: “Apakah engkau sudah minta syarat agar ia tidak berbicara tentang kematian dan seorang mukmin pasti memegang janjinya…”

Istriku menyela dengan semangat yang kental: “Persyaratan itu untukmu. Adapun untukku, tidak! Aku merasa setiap kali berkunjung kepadanya, semangatku dalam beribadah bertambah. Semoga Allah membangunkan hatimu…”

Kita memang selalu lupa dan lupa, sehingga dialah yang mengingatkan kita. Lihatlah perbuatannya, agar engkau mengetahui faidah mengingat mati. Di saat diam dia selalu bertasbih dan beristighfar, ia melakukan shalat malam lebih banyak dari yang kulakukan dan yang engkau lakukan, padahal ia lemah dan sakit-sakitan. Ia tidak pernah menggunjing siapapun. Ia hanya tersenyum dalam kebenaran. Bila ia melihat selain dari kebenaran, ia akan menolak dengan santun atau menundukkan kepalanya. Ia beramal dengan santai dan tidak banyak bicara. Ia tidak pernah mengatakan: “Aku berbuat begini dan begini…” Suatu ketawadhuan yang menakjubkan dengan menyembunyikan amalan. Di manapun ada kebaikan, ia selalu mencarinya dan menunjukkannya kepada orang lain…

Dalam kunjungan kami…

Pandangan-pandangan kami seolah mengingatkannya pada persyaratan tersebut. Ia betul-betul menunaikan janjinya, meskipun sebenarnya aku hanya bercanda. Ia memuliakan kami, semoga Allah memuliakan dirinya…

Ia sungguh telah mengankat derajat kami, semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para nabi, shiddiqin dan para syuhada.

Ia bercerita bahwa suaminya, bila lupa telah membawa pulpen dari kantornya, atau meminjamnya dari salah seorang teman, segera ia menulis di sebuah kertas kecil dan meletakkannya di ruang keluarga, agar ia bisa terbebas dari kewajibannya, dan demi mengembalikan hak itu kepada pemiliknya…

Aku menyadari, bahwa itu adalah persiapan untuk menghadapi sesuatu yang datang tiba-tiba, mencabut nyawa dengan sekonyong-konyong. Kisah kematian itu melambai-lambai dari kejauhan, meski ia sudah menjalankan persyaratanku…

Aku demikian takjub: “Hanya untuk sebuah pulpen ia sempat menulisnya!! Bagaimana diriku dibandingkan dengannya? Bila hal ini diceritakan oleh selain dia, aku tidak akan mempercayainya dengan begitu mudah. Atau aku akan mengira bahwa itu adalah sikap wara yang diriwayatkan dari generasi awal-awal Islam dahulu…

Suatu hari, aku bertanya kepadanya dengan bercanda: “Berapa rakaat engkau shalat pada saat shalat malam?” Ia menjawab: “Engkau tahu, bahwa witir itu adalah sunnah yang ditekankan, tidak layak bagi seorang muslim meninggalkannya. Barangsiapa yang terus-menerus meninggalkannya maka kesaksiannya tertolak…”

Ia tersenyum, dan melanjutkan: “Engkau menganggap segalanya terlalu banyak. Dahulu, para ulama As-Salaf bila sudah sampai empat puluh tahun umurnya, ia melipat kasurnya. Yang demikian mereka lakukan, padahal mereka adalah orang-orang yang shalih pada umur sebelumnya. Bagaimana dengan engkau…?”

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 112-115.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s