BAHASA ANGKA : sudah berlalu dua minggu, berapa banyak engkau telah bersedekah..

Abu Ishaaq Ath-Thabari menceritakan: “An-Najjaad biasa melakukan puasa Ad-Dahr dan berbuka dengan roti, yang dia tinggalkan sekerat. Bila datang malam Jum’at, beliau memakan beberapa kerat roti yang beliau cupilkan, lalu menyedekahkan sepotong roti jatah makannya di hari itu.”

Orang yang berbicara denganku itu hanya mengenal bahasa angka. Bila kita bertanya kepadanya tentang sesuatu, akan kita dapati ia membilang dan mengurangi terlebih dahulu, baru ia memberi jawaban…

Pada suatu malam dingin dalam perjalanan, keadaan demikian hening dan mencekam. Ia bertanya kepadaku: “Berapa banyak hartamu yang engkau sedekahkan setiap tahun?”

Aku terkejut mendapatkan pertanyaan tersebut, setelah lama terdiam. Namun ternyata ia mengulangi pertanyaan itu sekali lagi. Sebelum menjawab, aku bertanya dulu kepadanya: “Kenapa engkau bertanya demikian? Engkau tahu bahwa sedekah dengan sembunyi-sembunyi itu lebih baik daripada sedekah terang-terangan, sebagaimana dalam hadits Nabi:

“Ada tujuh orang yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari di mana yang ada hanyalah perlindungan Allah.”

Di antaranya disebutkan:

“Lelaki yang bersedekah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya…”

Namun ia bersikeras bertanya kepadaku. Akupun bingung menjawabnya. Aku berfikir, berapa banyak aku bersedekah dalam setahun penuh? Pertanyaan itu menyelidiki sepanjang tahun. Hari-hari dan bulan-bulan berlalu. Ketika memperhatikan bagaimana beratnya aku berfikir, ia berkata: “Biar aku memperingkas pertanyaan itu kepadamu. Kita sekarang berada di pertengahan bulan. Sudah berlalu kira-kira dua minggu dari awal bulan. Berapa banyak engkau telah berinfak untuk kebaikan?” Dengan cepat dan tanpa ragu-ragu aku menjawab: “Belum ada sedikitpun.”

Ia menggelengkan kepala, dan telah mencapai tujuannya. Kembali ia memainkan bahasa angkanya. Beberapa lama kemudian, ia berkata: “Kalau begitu, engkau tidak bersedekah pada setiap harinya, meskipun dengan sebelah kurma. Bagaimana pendapatmu?” Aku terheran-heran dengan cara dia menghitung. Namun ia menambahkan: “Engkau hanya bersedekah bila engkau mendapatkan orang fakir. Bukankah begitu?” Aku berkata kepadanya: “Ya.” Ia kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Kapan engkau mendapatkan fakir yang membutuhkan bantuanmu itu? Atau kapan engkau mencari orang fakir itu? Aku tidak mengatakan hanya orang fakir, namun termasuk dari kerabat atau tetanggamu?” Aku menjawab dalam hatiku sendiri: “Tidak pernah mencarinya. Dari kerabat, atau dari kalangan tetangga.” “Kalau kita umpamakan kita bersedekah satu riyal dalam satu hari, berarti jumlah yang kita sedekahkan dalam setahun penuh adalah tiga ratus enam puluh riyal. Jumlah yang sedikit sekali.” Ia menunggu jawaban. “Betul.” Jawabku.

Namun aku yakin bahwa aku tidak menyedekahkan sebesar itu, meski jumlahnya amat sedikit. Ia meneruskan, setelah aku memberi jawabanku. “Pintu sedekah itu termasuk pintu ibadah yang luas. Bisa dalam memenuhi kebutuhan orang fakir, atau memberi pakaian orang yang tak mampu membelinya, atau memberi makan orang yang lapar, menolong orang yang kesusahan, juga mengajarkan orang yang jahil… Allah telah memberikan kepadamu harta ini. Gajimu sebulan lebih dari tiga ribu riyal. Apa yang engkau persembahkan untuk Islam dan muslimin? Apakah engkau pernah membelikan buku untuk para tetanggamu?

Apakah engkau pernah ikut andil dalam membangun masjid, meski dengan jumlah sedikit? Berapa kaset Islam yang pernah engkau hadiahkan? Berapa orang fakir yang telah engkau tolong? Medan kebajikan itu banyak sekali, bermacam-macam…

Tetapi sadarkah engkau, bagaimana kita terhalangi dari semua kebajikan itu? Kenapa engkau tidak mengkhususkan jumlah tertentu setiap bulan untuk disedekahkan? Uang yang berlebih dari kebutuhanmu, bisa engkau sedekahkan dalam pintu-pintu kebajikan yang ada…

Kemudian masih ada banyak lagi yang bisa engkau persembahkan. Kita beri contoh, dan silakan menghitungnya. Kalau engkau mengurangi minum susu satu gelas satu hari, berarti engkau telah mengumpulkan satu riyal. Itu sudah cukup untuk membeli satu porsi makanan untuk keluarga muslim, yang mungkin belum melihat makanan sehari atau dua hari. Kalau engkau mengurangi membeli satu baju, dari kelebihan yang engkau butuhkan satu tahun, berarti engkau telah menginfakkan sebesar seratus lima puluh riyal. Cukup untuk membeli buku-buku aqidah dan dibagi-bagikan kepada sekolah-sekolah Islam.

Istrimu, bila ingin mendapatkan pahala dari Allah juga bisa melakukannya. Ia bisa bersedekah dengan harta satu buah gaun selama satu tahun, yakni seratus lima puluh riyal. Itu sudah cukup untuk menutupi biaya operasional program siaran selama dua puluh menit.

Di satu negeri, peperangan terus berlangsung tanpa henti antara kaum muslimin dengan misionaris kristen. Tahukah engkau apa yang telah diperbuat istrimu?

Semoga dengan itu Allah menutupinya dengan pakaian aman di hari yang penuh dengan rasa takut, dan memberinya pakaian ketakwaan, serta menjadikan apa yang ditinggalkannya di dunia ini sebagai dinding bagi dirinya dari api Neraka di hari Kiamat nanti…

Wahai saudaraku… Rumah yang engkau hiasi dengan berbagai aksesoris dan fasilitas serba luks, apakah engkau tidak bisa meninggalkan salah satu diantaranya? Kalau bisa, berarti engkau telah mengumpulkan lebih dari lima ratus riyal? Itu sudah cukup untuk memberi santunan bagi tiga siswa untuk menghafal Al-Qur’an selama satu tahun penuh. Allahu Akbar. Bagaimana pendapatmu?

Mengapa engkau menghalangi kenikmatan Allah yang berada di tanganmu untuk disedekahkan di jalan kebaikan? Bila engkau melakukannya, niscaya Allah akan menggantinya untukmu dan menganugerahkan kepadamu doa orang yang shalih… Doa yang naik ke langit, dari seorang anak kecil muslim yang hafal Al-Qur’an, yang selama ini engkau biayai.

Demikian juga anakmu. Kenapa tidak ikut serta dalam menjalankan kebajikan? Kalau engkau memberitahukan kepadanya bahwa ia telah bersedekah pada suatu hari, seharga mainannya, untuk membantu dan menolong kaum muslimin, pasti akan engkau lihat kegembiraan di wajahnya. Ia adalah anak Islam. Dengan sejumlah tiga puluh lima riyal, sebagai sedekah darinya, engkau bisa berlangganan majalah bulanan selama satu tahun penuh, mengangkat panji ajaran tauhid, dan memerangi bid’ah serta kemusyrikan. Engkau telah andil membantu meski dengan bantuan yamg ringan, dengan membaca dan mengambil faidah…

Semoga dengan itu Allah menempatkan anakmu di ‘Illiyyin. Pada hari ketika panji tauhid dikibarkan.”

Ia berpaling kepadaku, dan berkata: “Bagaimana pendapatmu? Bukankah itu tidak akan mempengaruhi pakaianmu? Tidak juga makananmu? Tidak juga tempat tinggalmu?” Ia bagaikan menikamkan pisau belati ke jantungku, ketika ia menambahkan: “Demi Allah. Engkau melihat, bahwa mereka hanya mencari sesuap makanan, yang tidak akan lebih dari satu porsi makananmu, namun cukup untuk makan satu keluarga di antara mereka selama satu minggu…”

Air mata tangisan berderai karena musibah yang menimpamu, wahai umatku,

Sampai kapan kami akan terus menangisimu, wahai umatku..

Sebentar kami terdiam, sementara aku beruasa membendung air mata kebingungan yang ada di mataku, yang terus mencari jalan keluar… Ia menambahkan dengan suara yang sedih.

“Berapa orang fakir yang dapat engkau tolong? Berapa banyak orang yang berhak, yang dapat engkau beri? Berapa banyak pintu kebajikan pula yang dapat engkau ketuk? Dan berapa pahala yang dapat engkau peroleh? Ini adalah salah satu pintu kebajikan. Bila engkau melihat sisi yang lain, engkau akan terheran-heran. Bila seorang muslim menggagalkan perjalanannya tahun ini, dan menginfakkan biaya perjalanannya, tentu ia sudah dapat memberi makan satu kampung kaum muslimin. Bahkan mungkin dua kampung selama satu tahun.” Ia menggerakkan tangannya. “Dan masih banyak lagi yang lainnya.” Ia meninggalkan diriku yang masih mengulang-ulang bahasa itu sekali lagi. Jerit tangis bayi-bayi kaum muslimin terasa mengetuk pendengaranku. “Bagaimana pula dengan sikapmu sebagaimana juga kami, wahai kaum muslimin?”

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 133-139.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s