PINTU SELALU TERBUKA : aku menemukan cahaya Islam di negeri asing..

Tatkala hatiku menjadi keras dan tujuan hidupku menjadi sempit, aku menjadikan harapanku terhadap pintu-Mu sebagai tangga penyelamat.

Meskipun aku disibukkan oleh studiku di perguruan tinggi, namun aku tetap menyisihkan waktu untuk menjalankan hobiku, yaitu korespondensi atau surat menyurat.

Aku sudah menjadi anggota dalam majalah nasional khusus korespondensi. Sehingga aku memiliki hubungan dengan banya teman di seluruh penjuru dunia. Kami sering saling memberi foto dan perangko. Di akhir tahun ketiga perguruan tinggi dan sebelum mendekati liburan musim panas, aku berfikir untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara. Pertama, aku ingin mengenal negara-negara itu. Kedua, aku ingin berkenalan dengan teman-temanku yang sudah memiliki hubungan denganku selama dua tahun atau lebih…

Dari sisi ekonomi?

Konsepnya menurutku amat mudah, sehingga aku tidak perlu mengeluarkan dana yang besar. Aku bisa menjadi tamu di rumah teman-temanku selama dua hari, tiga hari sampai seminggu…

Di sisi lain, teman-temanku itu tentu akan mengenalkanku dengan berbagai tempat bersejarah dan tempat-tempat rekreasi. Aku akan dijamin dan ditanggung segalanya.

Akupun menyusun progran perjalananku dari KSA (Kerajaan Saudi Arabia). Aku memutuskan untuk pergi ke Prancis dulu, kemudian ke Jerman, sesudah itu baru aku menuju Spanyol lalu ke Maroko, kemudian ke Mesir dan kembali lagi ke negeriku…

Program perjalananku kususun bersama dengan teman-temanku yang berada di berbagai negara tersebut. Mereka menyambut baik kunjunganku itu. Aku juga tidak mau terikat dengan paket perjalanan. Aku ingin bebas melakukan perjalanan sesuai dengan kesukaanku di setiap negeri.

Aku berhasil menyelesaikan ujian akhir tahun dan lulus dengan nilai terbaik. Aku memberitahu keluargaku tentang rencana perjalananku. Mereka tidak bisa menghalangiku untuk itu. Aku segera menyiapkan kamera foto dan beberapa surat penting. Juga tidak lupa dengan alamat dan nomor-nomor telepon teman-temanku. Aku meyakinkan diri bahwa aku akan bepergian untuk berekreasi, bukan untuk pamar atau hura-hura. Oleh sebab itu aku membeli pakaian ala kadarnya dan membawa uang secukupnya saja..

Bahasa Inggrisku tidak banyak menolongku ketika pertama kali turun di negeri tujuan pertama, karena masyarakat Perancis berbicara dengan bahasa mereka. Tetapi ketika aku menyewa Taxi dari lapangan terbang hingga ke kota Paris, baru aku tahu bahwa bahasa Ingggris juga biasa digunakan oleh orang-orang hotel dan tempat perbelanjaan besar…

Aku mampir di sebuah hotel sederhana. Udara kala itu sangat dingin kelihatan sekali bahwa pakaianku tidak memenuhi syarat. Tubuhku mulai gemetar kedinginan. Malam pertama pun berlalu…

Aku sangat bahagia ketika menghubungi temanku yang berada di sebuah kota jauh dari Paris dan memberitahukan tentang kedatanganku, ia menunjukkan kegembiraannya, dan menyatakan akan menungguku di stasiun kereta api besok di kotanya.

Keesokan harinya, aku mengangkut koperku dan berangakat dengan kereta api. Tidak syak lagi, aku menggerutu sendiri, karena aku terlalu banyak mengambil gambar, khawatir kehabisan film yang aku bawa. Akan tetapi pemandangan alam yang demikian asri, amat menawan hatiku karena keindahannya.

Beberapa saat sebelum kereta sampai, aku mengeluarkan foto temanku yang dari Perancis itu untuk kuteliti. Maklum karena kami belum saling bertemu langsung..

Kereta berhenti dan para penumpang turun, untuk mengetahui temanku tersebut. Aku tidak menemui kesulitan.

Kami pun berjalan bersama menuju rumahnya. Ternyata ia pandai berbahasa Inggris, yang memang menjadi bahasa korespondensi kami..

Aku menghabiskan waktu beberapa hari di rumahnya, hingga lima hari. Setelah kami menyaksikan kotanya dan mengunjungi berbagai tempat rekreasi, kami bersama-sama pergi ke kota lain untuk tinggal selama dua hari di sana. Kemudian kami kembali ke Paris bersama-sama dan menghabiskan waktu selama tiga hari di rumah salah seorang temannya. Setelah itu, aku berangkat ke Jerman.

Pada mulanya, aku mendapatkan kesulitan yang sama dalam masalah bahasa. Orang-orang Jerman hanya berbicara dengan bahasa Jerman.

Di Jerman, aku bisa lebih banyak bepergian, karena temanku memiliki mobil. Hal ini memudahkan diriku untuk lebih bebas bergerak ke sana ke mari. Meskipun konsekuensinya, kami tidak dapat menikmati perjalanan dengan kereta dan perjalanan berombongan.

Bagaimanapun juga, aku sempat tinggal di Jerman selama satu minggu, sehingga temanku itu menghabiskan masa liburnya bersamaku. Kami hanya sempat tinggal di rumahnya satu hari saja. Kami menghabiskan waktu untuk keliling-keliling di Jerman. Bahkan kami sempat menempuh lebih dari lima ribu kilo meter dari perjalanan kami. Dengan demikian kami menanggung biaya bahan bakar mobil. Biaya itu kami tanggung bersama, separuh-paruh.

Aku bisa menyaksikan Jerman lebih banyak daripada Perancis. Karena kondisi ekonomi temanku ini juga bagur. Selain ia juga memiliki banyak saudara di berbagai daerah. Meskipun karib kerabatnya itu tidak memberikan sesuatu yang berarti buat kami.

Aku meninggalkan Jerman menuju Spanyol. Aku memprogram agar bisa tinggal lebih lama di sana…

Air Matamu di Spanyol, Mendahului Pandanganmu

Apakah yang engkau saksikan di Andalusia? Tidakkah engkau pernah mendengar syair Ar-Ratsa tentang kejatuhan Andalusia?

Segala sesuatu bila telah sempurna pasti menjadi kurang

Maka janganlah seseorang terpedaya oleh kesenangan

Dalam segala hal sebagaimana yang kita lihat, terjadi perputaran

Ada masa kegembiraan dan ada pula masa kesedihan

Hati kita akan trenyuh dan lidah kita menjadi kelu.

Berbagai peninggalan sejarah, sebuah negara besar, dengan
bangunan-bangunan megah. Inilah akhir segalanya..

Setiap memasuki masjid, hatiku bergetar. Berapa banyak orang yang pernah shalat di sini telah pergi, dan berapa banyak orang-orang yang beribadah telah tiada lagi… Orang-orang semua sibuk…

Ini adalah Fusaifisa… ini gedung pertemuan… ini dan ini… Seolah Islam hanyalah tinggal berupa bangunan-bangunan…

Meskipun kami jarang mengunjungi masjid di sebelah rumah kami. Namun masjid-masjid di Andalusia ini memang berbeda. Bahkan berapa kali aku memasuki masjid kampungku, namun tidak sedikitpun hatiku bergetar. Padahal aku masuk untuk shalat…

Tetapi kini hatiku bergetar, padahal aku sedang berekreasi. Bukan untuk shalat atau beribadah..

Temanku yang berwarga negara Spanyol itu menceritakan kepadaku tentang keadilan kaum muslimin ketika mereka hidup di sini. Ia menceritakan kepadaku pengetahuan sejarah…

Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Setiap kali aku menggerak-gerakkan kepalaku di akhir pembicaraannya, tidak kudapatkan jawabannya. Namun yang jelas hatiku bergetar…

Mereka menceritakan tentang sejarah Islam, sejarah nenek moyangku. Sementara aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Bahkan aku berfikir: Apakah aku termasuk cucu dari orang-orang yang menaklukkan dunia? Aku meninggalkan Andalusia dalam keadaan bingung tentang arti yang terkandung dalam kata-kata itu.

Melalui jalan laut, aku tiba di Maroko…

Dengan mengendarai bis, aku berangkat menuju kota temanku dari Maroko itu. Ternyata ia tinggal dekat perbatasan Al-Jazair. Kami pun memasuki kota itu. Sebuah kota terpencil di tengah padang pasir, mengingatkan diriku dengan kampung halamanku. Kami tidak membutuhkan alamat…

Di mana rumah Jabir? Semua orang sudah tahu. Wah orang asing! Semua mata tertuju kepadaku. Salah seorang di antara mereka langsung menuntunku, begitu ia tahu aku datang dari Al-Haramain. Ia mengangkut koperku dengan kemauan sendiri sambil terus terheran-heran.

Aku mengetuk pintu. Ternyata yang membuka pintu adalah ayah Jabir. Aku tidak diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri. “Ini tentu yang datang dari Mekah?” Ia segera memelukku. “Mari silakan masuk!” Amat ramah, sehingga membuatku merasa malu. Ternyata mereka sudah menunggu kedatanganku dengan penuh kerinduan, semenjak satu minggu. Mereka telah menyiapkan pesta untukku, demikian kata mereka…

Usai meminum teh, mereka menyediakan untukku sebuah kamar yang rapi. Sore harinya, mereka berkata: “Sesungguhnya para penduduk desa ingin melihatmu…” (Apa???) Mereka ingin melihatku?

Aku pun diletakkan di depan podium di tengah pesta. Pembawa acara berbicara terlebih dahulu. Mereka menyambutku sedemikian hangatnya. Pesta itu mengikutsertakan kebanyakan penduduk kampung tersebut, kalau tidak bisa dikatakan semuanya. Kaum lelaki, wanita dan anak-anak…

Setelah itu Imam Masjid membicarakan tentang keutamaan Mekah Al-Mukarramah dan Al-Madinah Al-Munawwarah, dan memberi sambutan tntukku…

Datanglah hal yang merupakan kejutan buat diriku…

“Akan berbicara kepada kalian semua seorang yang datang dari negeri turunnya wahyu, negeri turunnya Al-Qur’an yang mulia, dari negeri Mekah dan Madinah…”

Sebelumnya, aku tersenyum mendengar ucapannya. Namun ketika mereka memintaku untuk berbicara… Rona wajahku berubah. Sekujur tubuhku gemetaran dan lidahku terasa kelu. Aku tidak terbiasa berbicara di hadapan orang sebanyak ini. Kemudian apa yang harus kuucapkan? Aku mahasiswa ekonomi. Aku tidak memiliki bekal ilmu syariat atau wawasan apapun..

Akan tetapi Allah memberi kemudahan kepadaku. Aku berbicara kepada mereka tentang tanah Al-Haram dan Ka’bah, juga tentang haji. Itu objek pembicaraan yang mudah yang sudah kupelajari semenjak dahulu. Aku juga memiliki banyak pengetahuan tahunan yang berbeda-beda dari seputar siaran pada musim haji. Aku berdoa kepada Allah semoga mereka dapat berhaji di Mekah. Suara-suarapun bersahutan diselahi tangisan dan ucapan amiin.

Aku merasa takut terhadap kesempatan ini karena aku takut kepada Allah. Aku pun mulai berbicara dengan gaya yang menggugah, seolah-olah aku berbicara kepada diriku sendiri agar bertaubat. Pelajaran ini bagai mencekik jiwaku, sementara aku tetap berbicara…

Aku pun menangis. Semuanya terdiam sesaat. Aku terbengong-bengong melihat diriku sendiri. Seolah-olah aku sedang mendapatkan mimpi yang aneh.

Mereka semua berdiri mengucapkan selamat kepadaku. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Sebagian ucapan mereka berupa tangisan, sebagian lagi dengan bahasa setempat…

Setelah acara itu, seolah-olah aku baru saja menyaksikan sandiwara dan aku sebagai pemeran utamanya. Kami pun diajak makan malam. Makanannya cukup untuk semua yang hadir. Namun aku tidak dapat menikmati santapan tersebut. Dalam batinku terdapat satu hal yang tidak aku mengerti…

Aku masuk menuju kamar dan mengunci pintu sendirian… lalu menangis. Bahkan aku meletakkan wajahku di atas bantal, sehingga bantal tersebut dipenuhi air mata. Aku berusaha untuk merendahkan suaraku, sehingga tidak terdengar oleh penghuni rumah…

Aku tidak tahu kapan aku mulai berhenti menangis. Namun aku tertidur dalam keadaan menangis. Kemungkinan kelelahan perjalanan membantuku untuk cepat tertidur…

Pintuku diketuk. Waktu shalat Shubuh sudah tiba… Aku berangkat ke masjid dan shalat dengan khusyu. Aku menangis dalam shalatku..

Aku bangun pagi itu dengan pikiran hilang, tidak ingat lagi apa yang telah terjadi pada diriku… Tidak tahu bagaimana kuhabiskan hari-hariku. Namun bermalam-malam aku isi dengan tangisan. Dan pada siang harinya, kondisi itu terlihat pada diriku..

Aku memutuskan untuk kembali ke negeriku… Meskipun mereka senang aku tinggal di negeri itu. Namun aku sudah bertekad untuk pulang. Tujuan perjalananku adalah Jeddah. Dari Jeddah, kuteruskan perjalanan ke Mekah. Aku tinggal di Al-Haram seminggu, dan hanya keluar bila ada kebutuhan mendesak.

Aku mulai membaca Al-Qur’an dengan serius dan shalat dengan khusyu’. Aku juga melakukan thawaf dengan tuma’ninah.

Kemana diriku selama ini sehingga melupakan semua ini? Ke mana perginya tahun-tahun yang lalu?

Aku tidak mampu menghitung-hitung lagi, karena aku sudah tenggelam dalam tangisan, rasa penyesalan mendalam. Bila aku teringat dengan masa laluku, aku membuka mushaf dan membacanya. Air mataku bercucuran. Ke mana perginya air mata ini selama bertahun-tahun yang lalu? Aku tidak tahu…

Rasa takutku berubah menjadi ketentraman karena pelajaran-pelajaran yang kudapatkan di tanah Al-Haram. Aku membeli sebuah buku: Hadil Arwaah Ilaa Bilaadil Afraah dan kitab lain berjudul: Waahatul Iman karya Abdul Hamid Al-Bilali. Sebelum dan sesudahnya: Segala puji bagi Allah yang mengampuni dosa dan menerima taubat…

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 58-68.

One thought on “PINTU SELALU TERBUKA : aku menemukan cahaya Islam di negeri asing..

  1. Memang benar bahwa datangnya Islam itu pada mulanya asing, seperti apa yang pernah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing (tidak umum), dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. Dan di lain riwayat beliau ditanya (tentang orang-orang yang asing), beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidup-hidupkan apa-apa yang telah dimatikan manusia daripada sunnahku”.
    [HR. Muslim, Ibnu Majah dan Thabrani]

    “Bada-al Islaamu ghariiban wa saya’uudu kamaa bada-a ghariiban” (Datangnya Islam itu asing dan akan kembali asing seperti datangnya.) Sebagai akibatnya orang yang mengamalkan ajaran Islam akan terasing di tengah-tengah masyarakatnya sendiri. Mereka merasa terasing, terpinggirkan dan terkucilkan.

    Akan tetapi Rasulullah SAW menggembirakan orang-orang yang terasing: “Fatuubaa lighuraba” (Berbahagialah orang-orang yang terasing.) Siapakah orang-orang yang terasing itu? Menurut sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim mereka itu adalah orang-orang yang berbuat kebaikan di tengah kerusakan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s