PERPISAHAN : kunjungan terakhirku ke tanah Haram bersama suamiku..

Al-Hasan Al-Bashri mengungkapkan: “Sesungguhnya aku amat malu kepada Rabbku untuk menemui-Nya sementara aku belum berkunjung ke rumah-Nya.” Maka beliau berjalan kaki sebanyak dua puluh kali dari kota Al-Madinah.

Labbaika Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda wan Ni’mata Laka Wal Mulka Laa Syarika Laka..

Ia berjalan dengan cepat sambil mengumandangkan panggilan itu… Ia pernah berkata dengan terus menganjurkan agar aku menunaikan kewajiban berhaji: “Apa lagi yang engkau tunggu? Sampai kapan lagi akan engkau tunda? Kesempatannya hanya sekali setahun. Sementara perbuatan itu adalah salah satu rukun Islam. Apa alasanmu menangguhkannya?”

Sekarang ini perjalanannya mudah dan transportasi juga gampang. Sementara pengamanan juga maksimal. Aku berpikir lama mencari alasan…

Ia kembali berkata: “Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan: “Pahala haji yang mabrur tidak lain hanyalah Surga.”

Sesungguhnya itu adalah pahala dan ganjaran baik yang akan memberikan semangat dan motivasi ke dalam hati, memberikan kegembiraan dan keceriaan..

Namun berbagai kegiatanku tampak menggunung dalam bayanganku. Dan berbagai alasan juga tetap menggayuti diriku. Suaranya kembali bergema dengan semangat yang lebih besar lagi. Ia berkata: “Ini kesempatan yang tidak ada gantinya. Jangan ragu-ragu.”

Aku berkata kepadanya: “Itu satu keputusan yang tergesa-gesa. Tunggu dulu, biar aku berpikir terlebih dahulu. Kemudian bersama siapa kita pergi? Bagaimana kita pergi? Dan di mana kita akan tinggal?” Berbagai pertanyaan mengalir dengan cepat bagaikan air bah. Apa yang akan kita perbuat? Padahal di sana nanti orang-orang berdesak-desakan. Terutama tahun ini, panas juga amat terik, sementara jumlah jamaah haji banyak sekali?!

Namun dengan tiba-tiba, ia menanggapi ucapanku itu dengan suara tenang: “Urusannya mudah saja. Allah akan memudahkan segala yang sulit, semoga saja Allah mempermudah segala urusan itu.”

Berbagai aktivitas yang terlihat sebelumnya dalam pandangan mataku bagaikan gunung-gunung, akhirnya memudar. Berbagai alasan yang saling tumpang-tindih bagaikan gelombang lautan juga mulai hilang. Aku memutuskan untuk menemaninya berangkat menunaikan haji… Adakah perbuatan yang lebih utama daripada menemani suami melakukan perjalanan ibadah?

Perkawinan kami sudah berlangsung tiga tahun. Tiga tahun pula kami saling menolong untuk melakukan ibadah. Bila ia lupa, aku mengingatkannya dan bila aku berbuat keteledoran, ia juga memperingatkan diriku. Aku masih teringat hari-hari pertama pernikahan kami. Jari-jari tangannya kala itu memungut sebuah gunting kecil. Aku bertanya: “Untuk apa gunting kecil itu?” Dengan menyembunyikan senyumannya, ia menjawab: “Untuk menggunting bagian jenggotku yang berlebihan.” “Kenapa engkau memotongnya?” tanyaku lagi. “Untuk memperbagus penampilan di hadapanmu.” jawabnya. Keherananku telah mendorong untuk melontarkan pertanyaan yang mengejutkan: “Engkau memperbagus penampilan di hadapanku dengan bermaksiat kepada Allah?”

Sungguh ia adalah lelaki yang amat baik sekali. Dengan cepat ia menerima peringatan itu dan bertaubat. Ia mengembalikan gunting itu ke tempatnya kembali, dan tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi selanjutnya..

Pada saat-saat berwuquf di Mina, aku bagaikan anak perempuan kecil yang terus menggondeli bapaknya karena takut dan khawatir. Aku tidak pernah membiarkan tanganku lepas dari pergelangan tangan dan telapak tangannya..

Aku menggelayuti kasih sayangnya yang belum pernah kurasakan dalam hidupku sebelumnya. Namun hatiku jadi tentram oleh suara dzikirnya kepada Allah. Kemah-kemah sudah disesaki oleh kaum lelaki dan wanita yang melakukan haji…

Berbagai cara untuk menentramkan jiwa cukup tersedia. Setiap hari, usai shalat Maghrib ada ceramah. Tiga haripun berlalu sarat dengan doa dan istighfar…

Tidak ada bedanya antara siang dan malam. Yang terdengar hanyalah suara orang-orang yang berhaji. Gunung-gunung dan lembah-lembah di kota Mekah itu memantulkan gema suara takbir dan talbiyah-talbiyah tersebut..

Di pertengahan malam. Suara-suara semakin melambung tinggi. Takbir-takbir juga bersahutan. Suamiku bertanya: “Apakah kita akan berthawaf dan melakukan sa’i malam ini juga?” Ia menunjukkan tekadnya yang demikian kuat terhadap diriku, padahal aku sedang hamil. “Mari kita mulai dari sini. Namun jangan engkau membuat capek dirimu sendiri dan jangan memaksa tubuhmu.” Aku berdoa kepada Allah ketika berthawaf semoga aku dianugerahi anak yang shalih. Aku pun berjalan mengejar waktu. Bisa jadi, tahun depan kami kembali bersama-sama di sini lagi..

Pada malam terakhir bagi kami di Mekah, kami melakukan thawaf Al-Wada’. “Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan ini sebagai kesempatan terakhir kami di rumah-Mu yang agung ini.” Air mataku jatuh bercucuran..

Ketika aku teringat ucapan Syaikh itu kemarin sore di kemah tentang keutamaan haji, yakni tatkala menyitir hadits Nabi:

“Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah, tidak melakukan rafats (berkata-kata kotor/jelek) dan tidak berbuat kefasikan, ia akan kembali ke rumahnya seperti bayi yang baru dilahirkan.”

Aku pun langsung bertakbir: “Allahu Akbar” segala dosa yang engkau lakukan terhadap Rabbmu akan diampuni, dan segala kesalahan yang engkau lakukan akan dihapuskan…

Aku memuji kepada Allah terhadap kebaikan yang amat besar itu. Aku berdoa kepada Allah dengan penuh kerendahan hati dan kekhusyu’an agar aku termasuk orang-orang yang diterima amal ibadahnya.

Mataku tertumpu memandangi Baitullah Ka’bah. Air mataku kembali bercucuran sebagai air mata perpisahan. Aku berbicara kepada diriku sendiri: “Bukankah aku akan kembali lagi?” Mataku kembali memandangi Ka’bah sekali..

“Apakah aku akan kembali melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah?” Aku melepas dahagaku dengan meminum air Zamzam. Air mata dan berbagai pelajaranpun bercucuran, sementara aku meninggalkan kota Mekah dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Perpisahan mana yang lebih mengharukan daripada perpisahan dengan tanah Al-Haram dan Maqam Ibrahim?

Kami berangkat ke lapangan terbang Jeddah. Suasana sungguh penuh sesak, suara-suara ribut, sementara pengumuman jadwal penerbangan dilakukan dengan bersahut-sahutan…

Terlihat suasana aneh tanpa pembicaraan. Yang terlihat hanyalah masing-masing musafir dengan barang bawaannya. Kami perhatikan wajah-wajah serius, mata-mata memandang tajam dan kuping-kuping sibuk mendengarkan: kapan waktunyu take off?

Karena kami berada dalam rombongan besar. Sebagian di antara kami terpaksa terlambat berangkat karena tidak mendapatkan tempat duduk. Di antara orang-orang yang terlambat itu adalah: suamiku..

Kami sampai di lapangan terbang Riyadh dan langsung mengambil salah satu tepi ruang tunggu. Bersama para jamaah haji, kami menunggu kerabat-kerabat kami yang lain.

Kami lama menunggu. Ketika terdengar pengumuman sampainya kloter selanjutnya, aku memuji Allah. Kami pun saling berdesakan untuk melihat wajah orang-orang yang baru datang itu. Semuanya sudah sampai, kecuali suamiku.

Salah seorang jamaah haji yang sebelumnya bersama kami mendatangi kami dan berbicara dengan lambat sekali dan terbata-bata. Ia mengabarkan bahwa suamiku akan datang terlambat pada kloter selanjutnya. Ia mengusulkan agar kami berangkat saja daripada menunggu terlalu lama. Aku bertanya pada diriku sendiri: “Kenapa hanya dia sendiri saja yang belum kembali?”

Ketika aku sampai, tiba-tiba telepon berdering dan memberitahukan bahwa suamiku mengalami kelelahan berat. Mereka menyatakan bahwa hal itu biasa dialami di musim haji. Sebagian temannya satu kemah sudah membawanya ke rumah sakit..

Berita itu terputus sampai di situ saja. Namun berita itu datang dengan format yang terlalu global, parsial dan terlambat!!

Kejadian-kejadianpun demikian cepat berlalu. Aku merasakan bahwa ini adalah masalah besar. Mulailah berdatangan utusan kerabatku. Pembicaraan mereka seputar mengingatkan diriku pada kematian, dan mengharapkan agar aku bersabar. Seolah-olah memang demikianlah kenyataannya..

Pada waktu Maghrib hari itu juga, kala kesedihanku sudah sampai pada puncaknya, rasa takut juga sudah menggelayuti hatiku, tiba-tiba pula datang seorang lelaki berwibawa berumur lebih dari tujuh puluh tahun, mengenakan jubah besar sambil memegang tongkat. Ia mengucapkan salam kepadaku dan mencium kepalaku. Ia bertanya tentang kondisiku. Kemudian suaranya yang berbisik menelusup ke lubang telingaku: “Memujilah kepada Allah. Allah-lah yang memiliki segala yang Dia ambil dan Dia berikan. Segala sesuatu sudah ditentukan takdirnya di sisi Allah…” Aku mengucapkan: “Ya Allah berikanlah pahala kepadaku dalam musibah ini dan berikanlah kepadaku pengganti yang lebih baik..”

Ia merendahkan suaranya. Ia terisak dan air matanya berderai. Ia berkata: “Anakku Abdullah sudah meninggal dunia…” Aku menundukkan kepalaku dan menyembunyikan suaraku. Air mataku kubiarkan berderai. Namun sisa aroma tubuhnya terasa masih tercium di tanganku. Bahkan pulpen dan sebagian berkas-berkasnya masih berada di koperku, bahkan juga pakaian ihramnya.

Aku melihat pakaiannya masih berada di tempatnya, sepatunya, bahkan juga kata-katanya yang indah masih terus membuntuti diriku di setiap kesempatan..

Masih ada juga sajadah yang sering digunakan untuk shalat di waktu akhir malam. Masih ada juga kertas-kertas kalender yang dia robek setiap hari dengan tangannya sambil mengucapkan: “Inilah umur kita.” Di setiap tempat ia memiliki pengaruh dan di setiap urusan ia memiliki jasa kebaikan.

Pada hari-hari itulah air mataku berderai dan gugur pulalah janinku. Namun segala kesedihan dan air mata itu terobati oleh ingatanku terhadap doanya sebelum fajar. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya karena puasanya di hari yang terik dan mengampuninya karena shalatnya di malam-malam itu, serta menghapuskan segala kesalahannya sebagaimana ia memaafkan segala kesalahan dan keteledoranku. Tiga tahun aku hidup bersamanya dalam keadaan senang dan bersyukur..

Aku memperbaiki taubatku setiap hari. Dengan meninggalnya suamiku, aku semakin memperbaiki taubatku, sementara aku seolah-olah melihat berakhirnya kehidupan dunia ini dengan mata kepalaku sendiri, dan kematian yang datang tiba-tiba.

Angan-anganku juga semakin segar, mengiringi kegembiraanku, sementara aku selalu mengangkat tanganku sambil berdoa agar pertemuan itu terjadi di surga An-Na’im. Karena di sana ada kehidupan yang tidak mengenal kematian lagi, kenikmatan yang tidak mengenal kesusahan lagi.

Aku memuji Allah atas akhir hidupnya yang baik itu. Karena ia meninggal dunia dalam keadaan bertakbir dan mengucapkan talbiyah. Yakni ketika suara-suara takbir itu bersahutan dan ia masuk ke tanah Al-Haram untuk shalat, bermunajah di hadapan Ka’bah. Aku memuji Allah atas keutamaan yang agung ini. Semoga Allah menerima haji dan sa’i-nya, mengampuni segala kekeliruannya serta mengangkat derajatnya.

Dan aku pun memuji Allah, karena masih ada waktu terluang dalam hidupku…

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 177-185.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s