KAMI DAN KAMU : di gurun yang sunyi ini imanku semakin menebal..

Aus bin Abdullah berkata: “Memindahkan batu itu lebih ringan bagi orang munafik daripada membaca Al-Qur’an…”

Aku mengucapkan selamat tinggal kepada keluargaku, sedih karena berpisah dengan mereka, namun gembira karena aku bisa datang ke negeri ini.

Untuk pertama kalinya aku memasuki lapangan udara. Dan untuk pertama kalinya aku menaiki pesawat terbang. Pesawat itu akan membawa kami melambung di udara, sehingga aku tergantung antara langit dan bumi. Berbagai macam perasaan berkecamuk dan berbagai romantisme saling bertumpang-tindih..

Rasa takut menghinggapi diriku. Tidak ada yang tersisa untuk memikirkan pekerjaanku. Bagaimana bentuk kerjanya, dan di mana?

Khayalan menghinggapi perasaanku. Aku mengenakan pakaian ihram. Itulah yang menjadi angan-anganku. Demi untuk itu, aku akan menanggung beratnya hidup di perantauan.

Bila ingat demikian, rasa takut di hatiku menjadi teredam. Pikiranku terombang-ambing. Aku akan menapaki berbagai jalan berbeda..

Pikiranku terputus oleh petugas pemeriksa paspor. Aku menyerahkan pasporku. “Apa pekerjaanmu. Penggembala kambing?” Tanyanya. “Iya.” Jawabku.

Setelah keluar dari ruang tunggu lapangan terbang, aku disambut oleh orang yang akan mempekerjakanku. Ia gembira dan tersenyum, aku pun gembira sekali.

Aku hanya dapat melihat sekilas cahaya kota dari kejauhan. Kemudian segalanya tak nampak lagi. Datanglah pertanyaan bertubi-tubi: “Berapa lama kamu sudah menggembala kambing? Apakah engkau mengenal penyakit-penyakit kambing? Belum lagi pertanyaan-pertanyaan yang panjang itu selesai, aku sudah tertidur… sehingga datanglah nasehat bertubi-tubi pula… : “Jangan malas, jangan lalai. Hendaknya engkau rajin dan cekatan!”

Kami memasuki sebuah kemah kecil setelah melewati berbagai jalan. “Ini tempat tinggalmu.” Aku gembira sekali dengan tempat yang luas dan tenang seperti itu. Kemahku berada di tempat yang tinggi… Dalam kemah itu terdapat bertumpuk-tumpuk makanan ternak dan gandum. Tak ada tempat yang tersisa untukku selain sebuah pojok yang sempit. Sementara bagian lain yang tersisa adalah dapurku…

Setelah tertidur nyenyak, aku bangun untuk shalat Shubuh. Aku memulai hari pertamaku untuk bekerja..

Aku memandangi kambing-kambingku satu-persatu. Semuanya dilepas di depanku. Aku pun berangkat dengan membawa makananku, sambil duduk tenang di atas tungganganku.

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kepada kami kendaraan ini, dan tidaklah kami mampu menundukkannya. Sesungguhnya kepada Rabb jua kami akan dikembalikan..”

Debu-debu beterbangan akibat injakan kaki kambing-kambing itu. Kami berjalan perlahan-lahan. Lambat laun kemah itu hilang dari pandangan… Aku menatapnya sambil mengucapkan selamat tinggal… Waktu pulangku adalah ketika matahari tenggelam.

Setelah lama berjalan, kami turun dari tunggangan. Aku mencari tempat, dan memberi makan hewan-hewan yang masih kecil. Lalu aku mengumandangkan adzan untuk shalat Zhuhur.

Suaraku berkumandang menembus tempat-tempat terdekat. Aku tenang, karena kambing-kambing itu ada di sampingku. Aku mengumandangkan iqamat dan shalat. Anganku melmbung jauh, seolah sampai ke masjid kami yang ada nun jauh di sana…

Aku teringat, ketika memulai menghafal Al-Qur’an. Kembali terdengar suara ayah di telingaku. Yakni ketika ia menganjurkan diriku untuk menghafal Al-Qur’an. Ini kesempatan yang tidak akan terulang lagi. Ibarat harta rampasan tak bertuan. Karena tidak ada yang menyibukkan diriku. Takkan ada yang mengajakku berbicara di sini. Panas begini terik, lagi pula tidak lebih dari tiga kerat makanan yang kusantap.

Ketika tiba waktu pulang, aku telah membuat keputusan penting… Aku akan menghafal Al-Qur’an, insya Allah. Iya, aku melakukannya sambil menggembala kambing. Aku bersyukur kepada Allah atas taufik ini.

Pekerjaanku di luar kota. Di sini, meskipun hidup begitu berat dan keras, namun tidak ada gunjingan, tidak ada adu domba, tidak ada juga pertikaian. Kejernihan ada di mana-mana…

Ketika kemah sudah terlihat, kambing-kambing dan domba-domba itu berlari cepat. Segera saja, kami mendatangi tempat air. Aku berwudhu dan kembali adzan untuk shalat Maghrib..

Ini adalah hari pertamaku di sini. Demikianlah hari-hariku berlalu..

Pada hari Jum’at, aku berjalan kaki untuk menghadiri shalat. Aku memberitakan kepada tuanku, bahwa aku datang kemari hanya karena hasratku untuk dapat melaksanakan ibadah haji. Namun dengan dingin ia menjawab: “Masih tersisa beberapa bulan lagi?” Aku tidak melihat ada semangat pada dirinya.

Mungkin pembaca bertanya-tanya tentang diriku. Itulah hasil kedatanganku di sini. Mungkin juga pembaca heran, bagaimana aku bisa menghafal Al-Qur’an?

Pada pagi hari, aku pergi membawa kambing-kambingku, sambil mengulangi hafalanku yang kemarin.

Ketika sampai di tempat yang nyaman, aku mulai menghafal. Di waktu pulang, aku mengulangi hafalanku pada hari itu. Pada pagi harinya, aku mengulangi lagi hafalannya… Pada hari Kamis dan Jum’at, aku mengulangi seluruh hafalanku…

Seorang temanku bertanya kepadaku: “Jadi kamu tidak punya radio? Tidak punya televisi? Tidak membaca koran? Bagaimana kamu mengetahui keadaan dunia, dan apa yang sedang terjadi? Sungguh kamu terisolir dari dunia ramai. Itulah kenyataan dirimu. Aku berusaha untuk menjawab: “Apa yang dapat kami ambil faidah? Dan apa yang dapat ia ambil faidah? Sang penggembala itu duduk dengan tegang. Pikiranku sederhana. Waktuku banyak yang terluang, hanya disibukkan oleh penyakit kambing, atau oleh kainku yang sobek… Itu merupakan kejadian besar bagi diriku.. Adapun kelahiran anak kambing, maka bagiku itu adalah kejadian dunia. Aku berkata kepada temanku: “Bagaimana engkau memandang kita di dunia ini. Apakah kita berlari-lari mengarungi kehidupan, tanpa membaca Al-Qur’an sebulan atau dua bulan…?”

Kami katakan kepadanya: “Hidupmu lebih baik dari hidup kami. Engkau dengan harta bendamu yang sedikit itu lebih baik dari dunia kami…”

Tak lama ketika kami berkendaraan pulang, temanku segera memegang radio: “Pembicaraan orang pada hari ini adalah: Terjadinya kerusakan pada lapisan udara bagian atas…!!”

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 127-132.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s