JALAN BERDAKWAH : aku hanya dokter dengan apa aku harus berdakwah..

Kebencian terhadap hidup dan rasa takut kepada Allah telah mengeluarkan diriku darinya Jiwaku terjual dengan harta yang tak pantas baginya
Sesungguhnya aku menimbang yang akan kekal untuk dapat mengimbangi kehidupan Segala yang tidak kekal, demi Allah, tidak akan kami pertimbangkan…

Segala puji bagi Allah yang mengumpulkan kita di tempat ini. Kita tidak menyembah berhala, tidak pernah berthawaf keliling kuburan dan tidak pernah menyucikan pohon. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan kita di atas tauhid, beribadah hanya kepada Allah semata, tidak ada tandingan dan sekutu bagi-Nya.

Nun jauh di sana wahai saudara yang aku cintai, ada batu yang disembah, di samping juga Allah, ada kuburan yang dikelilingi, orang-orang mati dijadikan perantara ibadah. Di sana, masih ada kejahilan yang menancapkan kuku-kukunya dengan demikian dalam. Dimana kewajibanmu wahai kaum muslimin dalam menyampaikan dakwah? Kenapa kalian ketinggalan dari kafilah itu? Siapa yang akan menanggung beban dakwah ini selain kalian dan orang-orang semisal kalian?

Keheningan menyelimuti kami. Sementara seorang syaikh berdiri bagaikan tombak usai shalat Tarawih untuk berbicara, beberapa kata yang mengharumkan tempat itu, menyentuh hati dan menggugah perasaan serta mengasah jiwa.

Aku menyentuh dompetku. Tampaknya ia mengajak kami untuk beramal…

Ia berhenti sejenak, lalu membaca istirja’ (innaalillahi wa innaa ilaihi raaji’un) karena ternyata para pemuda dari umat ini lalai.” Seolah-olah ia berbicara kepadaku.

“Aku datang kemari bukan untuk mengumpulkan harta. Aku datang kemari untuk menganjurkan dan mengingatkan anda semua akan kewajiban berdakwah ke jakan Allah. Para ulama As-Salaf terdahulu mengarungi padang pasir dalam jarak yang jauh sekali demi menyampaikan dakwah dan membenarkan keyakinan mereka…

Sekarang? Segala sarana dakwah mudah, apa yang telah kita persembahkan? Saya tidak mengajakmu -wahai saudaraku- agar engkau mengorbankan waktumu seluruhnya..

Tidak, namun sisa waktumu. Sisa waktumu, gunakanlah untuk berdakwah. Mereka dahulu menyerahkan seluruh waktu mereka untuk berdakwah dan sisanya untuk mencari dunia…

Meskipun jumlah orang yang shalat banyak, dan semuanya terdiam, tetapi aku merasa seolah-olah ia hanya berbicara kepadaku saja, menguliti kesalahan-kesalahanku…

Aku tinggalkan tas, dan kukeluarkan tanganku dari kantong. Aku mengulang-ulang: “Ini adalah dakwah tauhid. Masih membutuhkan banyak orang. Karena kondisi kaum muslimin amat memelaskan sekali!!

Aku keluar masjid dan mataku mencari-cari di mana Syaikh itu. Ketika aku menyalaminya, ucapanku dengan cepat sudah mendahuluiku: “Di mana jalan itu? Aku ingin pergi berdakwah, meskipun sebagai seorang dokter…” Aku memutuskan itu tanpa ragu-ragu lagi. Berjalan di jalan dakwah mengajak kepada ajaran Allah…

Aku menggagalkan kepergianku ke Kanada untuk mengambil program doktorku, dan kuputuskan untuk menundanya selama enam bulan… Aku mulai berlari di lembah-lembah dakwah, mendaki gunung dan menuruni jurang…

Aku menyaksikan penyembahan kuburan, thawaf mengelilingi kuburan-kuburan itu, bahkan juga menyembelih di altarnya. Aku melihat sendiri adanya banyak perbuatan bid’ah dan takhayul… Aku juga melihat para pemuda Nashrani di bawah terik matahari dan di tengah wabah penyakit yang merajalela. Mereka mengerahkan segala sesuatu untuk menyebarkan Kristenisasi..!!

Hari-hari berlalu dengan cepat, dan aku bagaikan gerakan yang tak pernah berhenti, semangat yang tidak pernah kendur…

Setelah habis masanya… Aku beristikharah meminta pilihan kepada Allah, ke mana aku akan mengarah? Dan ke mana aku akan berjalan?

Duduk dengan tenang, dan berfikir sedalam-dalamnya. Bagaimana nanti, bila aku telah menyelesaikan studiku, dan keadaan masih sama seperti yang dulu? Aku bisa menggapai gelar doktor, tetapi apa lagi sesudah itu?

Aku teringat dengan panggilan Allah:

“Dan bersegeralah kepada ampunan dari Rabbmu dan Surga yang luasnya langit dan bumi.” (Ali Imran: 133)

Aku ingin bersegera menuju Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi. Setiap hari ada doa yang naik ke ufuk langit.

Di mana iman akan tertanam ke dalam hati, jalan dan lorong akan dipenuhi oleh cahaya. Sesungguhnya itu adalah perjalanan dakwah. Itu adalah perlombaan memperoleh kebaikan… Menyampaikan risalah dan meniti jalan hidup beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Aku mengeluh, hari-hari pemuda Islam itu hilang begitu saja, waktu-waktu mereka terbuang sia-sia…

Kaum muslimin betul-betul berhajat untuk diberi ilmu dan pengajaran. Itu adalah ajakan untuk berjalan di atas jalan dakwah.

Orang yang bodoh diberitahu, orang yang lalai diingatkan. Sehingga ibadah kepada Allah hanya dilakukan dengan syariat-Nya. Pada masa awal umat ini, mereka berlomba-lomba dalam kebajikan. Bagaimana kita sekarang?

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 256-260.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s