PELARIAN : rumah itu hampir rubuh mengapa masih saja dibom..

Bertakwalah kepada Allah, karena ketakwaan
Bila menyentuh hati seseorang, akan membawanya ke tujuan
Bukan pahlawan orang yang merampok di tengah jalan
Orang yang bertakwa kepada Allah, itulah sesungguhnya pahlawan

Setiap kali bayanganku melayang kepada Abdullah, kulihat sosok yang tinggi menjulang menyentuh awan. Ia adalah orang yang telah menyerahkan hidupnya sebagai tebusan bagi Islam..

Pada zaman di mana sebagian orang bersikap kikir, meski hanya menyumbangkan satu riyal saja. Dalam diri lelaki itu, segalanya tampak besar: cita-citanya, tekadnya, komitmennya… Pada masa yang penuh kelemahan dan keloyoan, ia masih menyimpan cita-cita sebagai lelaki..

Pada masa terjadinya banyak penyimpangan, kita dapati dalam dirinya sikap konsekuen. Bila wajah orang banyak terlihat masam dan kusam, wajahnya justru terlihat cerah dan penuh kebaikan. Pada zaman terjadi kemunduran, ia justru maju pantang mundur..

Banyak hal yang melenakan dan bermacam-macam jumlahnya. Namun ia tetap sebagai pemuda yang teguh dan konsekuen. Di kedua matanya terlihat cita-cita Islam..

Ia tidak menengok ke kiri dan ke kanan untu mencari dunia, karena yang menjadi tujuan hatinya adalah mengangkat kebesaran Islam. Ia hanya menghabiskan masa liburnya untuk berkhidmat kepada kaum muslimin..

Pada masa muda, ia memberi satu jawaban:

Seekor rusa bertanya kepada kami tentang kehormatan:
Apakah engkau menyukai kerinduan di mata seorang anak kecil perempuan? Aku katakan: Aku tidak tertarik kecantikan luar belaka
Aku juga tidak memandang cinta itu sebatas mata yang jalang
Yang kuasai adalah hati yang lapang dan nyaman
Membawa kematian dan menjadikan maut sebagai kebanggaan
Setelah mengetahui rahasiaku, sang rusa bertanya:
Apakah engkau hanya menyukai bedil belaka?

Karena ia baru meletakkan bedilnya dua hari yang lalu, seusai tiba dari medan jihad, aku pun begitu gembira dengan kedatangannya, aku senang melihatnya. Namun ia justru menanggapi kegembiraanku dengan nada sedih: “Allah belum memuliakan aku untuk mati sebagai syahid hingga saat ini. Apakah syahid itu diberikan kepada setiap orang yang menghendakinya? Karena saat ini aku tidak sedang membawa bedil. Aku hanya membawa buku-buku untuk dibagi-bagikan di sana. Buku-buku aqidah, buku-buku tauhid dan buku-buku fikih… Karena mereka amat membutuhkan sekali para guru dan dai-dai.

Aku tidak menemui kesulitan dalam membagijan buku-buku tersebut. Tetapi kesulitan justru untuk mendapatkan orang yang bisa mengajarkannya. Di sebuah puncak pegunungan di daerah itu…

Kami selesai membagi-bagikan buku di sebuah kamar yang disebut sebagai sekolah. Mereka mengabarkan bahwa beberapa pesawat menghujani lokasi itu dengan bom. Senjata-senjata kami, tidak mampu menandingi besi-besi terbang tersebut. Adapun senjata-senjata penduduk asli, sebagian adalah bekas perang dunia kedua, bahkan perang dunia pertama..

Di tengah keheningan, terdengar suara bisikan, bahkan suara gemerisik pesawat mendekat. Kami berlari cepat menuju persembunyian di sebuah gua. Kami mengulang-ulang syahadat dan membaca Al-Qur’an. Temanku, jika menginginkan sesuatu, ia menarikku.

Kami tidak mendengar suara masing-masing di antara kami, karena kerasnya suara pesawat. Kami menengok ke arah kampung-kampung kecil yang bertebaran di bawah gunung. Sebagian berisi sepuluh rumah. Sebagian lagi berisi lebih dari itu, hingga lima puluh rumah. Rumah-rumah kecil dan sederhana, terbuat dari batu. Warnanya juga alami. Terlihat bekas-bekas hantaman bom pada rumah itu, yang sebenarnya tidak membutuhkan itu, karena tak lama lagi juga akan runtuh sendiri..

Kami sudah merasa aman. Serangan itu kini mengarah ke lokasi tertentu di bagian bawah lembah. Aku mengambil teropong yang ada bersamaku. Aku mengarahkannya ke berbagai lokasi tempat tinggal tersebut, juga sekitar bukit-bukit karang. Terkadang terus kuarahkan hingga jauh untuk melihat sungai. Tiba-tiba teropong itu bergetar, gambar yang terlihat berubah, seiring dengan goncangan pada bumi sekitar kami. Sebuah kondisi yang sulit digambarkan. Amat dahsyat, dan menyesakkan dada..

Aku teringat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya: “Kenapa kaum mukminin mendapat fitnah dalam kuburnya kecuali orang yang mati syahid?” Beliau menjawab: “Cukuplah kelebatan pedang di atas kepalanya (yang mati syahid) sebagai fitnah (cobaan).”

Saat-saat genting dan masa-masa sulitpun terjadi… Bumi bergoncang, langit menurunkan hujan peluru.. Kami berada di antara keduanya, bencana. Bencana apa ini?

Sebagian orang membayangkan masa-masa tenang, aman dan tentram di negerinya. Sebagian di antara mereka ada yang seolah-olah melihat putra atau putrinya memanggil untuk kembali. Itulah godaan dunia, godaan kematian. Namun seorang mukmin menjawabnya dengan tegas dan teguh..

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukminin jiwa dan harta mereka bahwa mereka akan mendapatkan Surga..”

Di tempat ini, kejadian berlangsung cepat, berlomba dengan maut. Kami bertakbir dan mengucapkan syahadat, dengan cepat, tidak pernah lisan kami berhenti melakukannya…

Jiwa kami seolah mengabarkan bahwa ini adalah akhir takbir dalam hidup kami. Untuk terakhirnya kami mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Aku menggerakkan kelopak mataku. Ternyata kampung terdekat sudah mulai dihujani oleh bom. Gulungan-gulungan asap mulai meninggi, bercampur dengan tanah. Dari arah timur kampung…

Ada sebuah rumah menyendiri, dengan satu atau dua kamar yang berukuran kecil. Letaknya jauh dari kampung tersebut, lima puluh meter dari arah gunung. Ketika kampung itu bergetar dan rumah-rumah beruntuhan, tiba-tiba keluarlah seorang wanita dari rumah itu. Siapa dia? Telanjang, tidak berpakaian, tidak memakai alas kaki. Ia berlari dengan kencang, tidak tahu kemana harus mengarah dan kemana harus pergi. Rasa takut telah menyebabkan dirinya hilang ingatan. Tidak memiliki kesadaran lagi. Ia mengarah ke kiri dengan langkah-langkah cepat, namun kemudian berlari ke kanan. Tak berapa lama kemudian. Ia disusul oleh anak putrinya yang belum berusia lima tahun. Saling berlari dan berlari. Urusannya adalah hidup dan mati. Masing-masing mengurus dirinya sendiri. Sang anak berlari kencang ke arah kiri, hingga membentur batu besar dan terjatuh..

Beberapa menit kemudian, debu-debu pun mulai memudar dan suara-suara mulai hening. Kami mulai turun dari gua. Aku memikirkan keadaan yang mencekam di hari itu…

“Hari di mana seseorang berlari meninggalkan saudaranya, ibu dan ayahnya, istri dan anaknya. Masing-masing pada hari itu sudah memiliki urusan yang menyibukkannya…” (‘Abasa: 34-37)

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 140-145.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s