JANGAN KELUH KESAH : aku meninggalkan suami demi surga yang abadi..

Ahmad bin ‘Ashim mengungkapkan: “Ini adalah sedikit harta yang dingin: Perbaikilah umurmu yang tersisa, semoga Allah mengampuni segala hal yang telah dilakukan sebelumnya.”

Pada zaman yang penuh dengan kejahilan, pada masa yang penuh dengan kelalaian, atau sebut terserah anda zaman apa saja sekarang ini; aku hidup dalam masa tidur yang nyenyak, tidur yang berkepanjangan..

Di tengah malam yang tidak ada fajar, di tengah kegelapan yang tidak ada sinar.

Segala kewajiban tidak memiliki arti bagiku. Segala perintah dan larangan tidak punya tempat dalam hidupku. Kehidupan bagiku adalah kenikmatan terus dan kelezatan…

Kehidupan adalah segalanya. Aku selalu bersenandung dan berkicau untuk kehidupan itu. Tawa selalu menemaniku, lagu-lagu selalu mengalir melalui lidahku. Mengalir tanpa batas. Hidup memang tidak mengenal ikatan…

Dua puluh tahun berlalu. Segala yang kuinginkan selalu tersaji di hadapanku.

Pada umur yang kedua puluh, aku telah tumbuh menjadi sekuntum mawar yang siap dipetik. Siapakah ksatria yang datang? Banyak persyaratan dan kriteria yang harus dipenuhi!!

Seorang lelaki datang, dengan kepulan asap rokok mengerubungi dirinya, didahului pula oleh suara musik. Ia berasal dari masyarakat yang sama, dari masyarakat yang tengah tertidur sebagaimana diriku, berbantalkan dosa-dosa dan berselimutkan kemaksiatan..

Burung-burung bergabung pada yang jenisnya sama, burung yang satu itu membawa diriku terbang di langit yang hitam: kemaksiatan dan dosa-dosa. Kami pun berkicau dan berdendang. Kami menelan kehidupan ini bulat-bulat. Tidak melihat ujungnya, karena saking panjangnya, dan tidak terlihat batasnya karena saking lebarnya. Perhatian kami cuma satu, dan tabiat kami juga saling mengikat: mencari lagu-lagu baru dan memperdebatkan berbagai pertandingan..

Demikianlah berlaku sepuluh tahun masa perkawinanku, bagaikan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku yang sudah kelelahan. Kebahagiaan yang palsu!!

Di tahun ini, umurku genap tiga puluh musim gugur. Semuanya sudah berlalu, sementara aku masih berjalan di tengah lorong yang gelap.

Bagaikan sinar matahari yang menembus kegelapan malam dan memecah-belah kegelapan itu. Bagaikan hujan di musim panas. Suara guntur, cahaya kilat, semua datang beriringan dengan hujan deras..

Mimpi menghiasi rintik-rintik hujan tersebut, kegembiraan dan pelangi..

Sebuah kaset dihadiahkan kepadaku oleh salah seorang kerabatku yang paling mulia. Ketika menghadiahkan kaset itu, ia berkata: “Itu berisi pendidikan anak.”

Aku ingat bahwa aku pernah berbincang-bincang dengannya tentang pendidikan anak beberapa bulan yang lalu. Kemungkinan ia memiliki perhatian dalam urusan itu.

Kaset untuk anak-anak. Aku mendengarkannya. Meskipun kaset itu bagaikan anak yatim di antara kaset-kaset lainnya yang kumiliki, namun aku mendengarkannya juga. Sekali, dua kali…

Aku bukan hanya tertarik, tetapi juga membuatku berkeinginan mencatat beberapa point penting di atas kertas. Aku tidak mengetahui, apa yang diucapkan kaset itu kepadaku. Sebuah ucapan gencar yang menggoyahkan akar-akar kelalaian dan bahkan membangun orang yang tidur. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku bisa menerima pengajaran semacam itu pada diriku sendiri. Bahkan ini adalah perubahan yang cepat sekali. Aku belum pernah sebelumnya menggantikan posisi kaset lagu-lagu dengan kaset semacam ini!!

Aku meminta kaset-kaset lain. Aku mulai sadar dan terbangun. Aku selama ini dapat mengerti semua perkara, kecuali hidayah. Semua itu dari Allah, dan itu sudah cukup bagiku…

Inilah kebangkitanku dan itulah masa tidurku. Inilah kesadaranku, dan itulah masa lalaiku.

Akan tetapi yang menyakitkan diriku adalah bahwa selama tiga puluh tahun umurku habis. Kenapa umur sepanjang itu tidak kugunakan untuk berbuat ketaatan?

Detak jantungku berubah dan denyut kehidupanku juga mulai bertukar. Aku kini sudah terbangun. Siapa orang yang lebih berhak dengan kenikmatan ini dariku? Segala bekas tidurku segera kusingkirkan dari jalan hidupku. Dan segala yang tersimpan dalam rumahku kucampakkan. Demikian juga segala yang masih tergantung dalam hatiku pun segera kuhilangkan.

Suamiku berkata dalam keadaan yang sudah dipenuhi rasa khawatir: “Engkau mudah terpengaruh. Engkau tidak bisa menimbang-nimbang perkara!! Siapa yang menyematkan ke dalam kepalamu bahwa hal ini adalah haram, ini haram dan itu haram? Setelah berpuluh tahun engkau melakukannya? Sejak kapan turun fatwa haram itu?”

Aku berujar: “Ini adalah agama dan hukum Allah.” Selama ini kita wahai suamiku, berada dalam lorong kegelapan, berjalan di jalan yang licin dan berbahaya. Mulai hari ini, bahkan mulai sekarang juga, engkau harus menjaga shalatmu.” Namun setan kembali berbicara melalui lidahnya dan mengucapkan, “Apakah semua itu sekaligus?” Aku menjawab: “Demikianlah.”

Namun ternyata ia sudah tertidur nyenyak dan terlalu ramai. Ia tidak juga berubah. Aku sudah berusaha dan berusaha. Aku menjelaskan masalahnya kepadanya. Semoga dan mudah-mudahan aku bisa membuatnya takut kepada Allah, neraka, hisab dan siksa, juga gelapnya lubang kubur dan berbagai keadaan mencekam kala itu. Akan tetapi ia memiliki hati tak ubahnya sebongkah karang. Tidak mau melembut sedikitpun!!

Di tengah kesedihan yang merundung diriku, rasa takut juga selalu menemani hari-hariku, satu mataku memandang anak-anakku, dan sebelah mata yang lain memandang fatamorgana. Hidup bersama suami yang tidak shalat, sementara banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan begini dan begitu. Api seolah-olah membakar diriku… “Apakah yang menyebabkan kalian terjerumus ke dalam neraka Saqar?” Mereka berkata: “Kami tidak termasuk orang-orang yang shalat.”

Aku berbicara berkali-kali dengannya, kuulangi dan kuulangi lagi. Aku juga memperlihatkan kepadanya fatwa para ulama, dahulu maupun sekarang, bahwa orang yang tidak shalat harus dipisahkan dari istrinya karena ia adalah kafir. Dan, aku tidak akan tinggal bersama orang kafir…

Ia menengok dengan dingin dan penuh ejekan: “Bagaimana dengan anak-anakmu, bukankah engkau masih mencintainya?” Aku menjawab: “Allah adalah sebaik-baik Pemelihara dan Dia adalah Maha Pengasih lebih dari para pengasih selain-Nya..”

Bagaikan butiran-butiran yang beterbangan, terlepas dari kulitnya, aku mulai memgalami musibah demi musibah secara berturut-turut; penghinaan, pelecehan, ancaman dan intimidasi yang sungguh belum pernah pembaca dapatkan seumur hidup, seumur hidup..

Banyak sekali persoalan yang harus kuhadapi, di antaranya yang paling berat adalah karena ia tidak shalat! Apa yang dapat diharapkan dari orang yang tidak shalat?

Aku hidup dalam putaran gangsing yang tidak pernah berhenti, mengganggu tidurku, dan selalu dalam kegelisahan yang menghilangkan kenyamanan tidurku. Aku menelpon sebagian ulama..

Persoalannya bukan pada diriku saja, tetapi juga perasaanku dan juga anak-anakku..

Ketika aku mengetahui bahwa urusan ini begitu berbahaya, sementara aku harus menaati Allah dan Rasul-Nya. Aku pun memilih kehidupan akhirat dan surga yang seluas langit dan bumi daripada kehidupan dunia yang fana. Aku pun meminta cerai..

Sebuah kata pahit yang biasa diterima oleh seorang wanita pun aku rasakan, berusaha membunuh dan menikam jiwaku. Namun hatiku tetap lapang menerimanya, bahkan lukaku menjadi sembuh dan jiwaku menjadi tenang. Demi ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Aku menghapuskan dosa-dosa selama bertahun-tahun yang lalu dan menghilangkan berbagai noda yang kulakukan di masa lalu.

Aku mendapatkan ujian berat dalam diriku, dan dalam persoalan anak-anakku. Aku berusaha melupakan mereka sewaktu-waktu. Namun air mataku mengingatkan diriku kepada mereka. Salah seorang kerabat berkata kepadaku: “Kalau ia tidak juga membawa anak-anak itu segera, hak perwalian itu ada pada dirimu. Karena tidak ada perwalian orang kafir terhadap anak-anak muslim. Dia kafir, sementara anak-anakmu adalah muslim.”

Aku merasa terhibur dengan kisah Yusuf. Aku berkata pada diriku sendiri sementara air mataku tidak pernah berhenti mengalir: Siapa yang akan menolongku untuk mendapatkan ketabahan ayah beliau -‘alaihimassalam-?”

Pada suatu pagi, rasa sedih mengoyak-oyak sinar fajar, malam terasa demikian panjang, membuat luka semakin parah. Aku harus mengunjungi putriku di sekolahnya.

Aku tidak kuat lagi untuk berpisah dengannya. Bara dalam hatiku membakar rasa rinduku kepadanya. Aku harus melihatnya. Aku khawatir jatuh pingsan karena beratnya menahan rasa rindu ini.

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menunjukkan perasaanku kepadanya dan tidak juga menjelaskan perasaan jiwaku. Aku akan berdiri tegak. Namun bagaimana mungkin aku akan mampu berdiri tegak, sementara aku membawa kembang gula dalam tasku!!?

Aku melewati pintu sekolahnya menghadap dan siap memasukinya. Jantungku tidak pelak lagi langsung berdebar, mataku juga tidak bisa lagi memandang ke satu arah. Aku melongok ke kiri dan ke kanan mencari di mana putriku. Ketika aku menghenyakkan tubuhku di atas kursi di samping wanita kepala sekolah itu…

Kekuatanku kukerahkan, sementara aku mengusap keringat yang mengalir di keningku. Gemetar di ujung-ujung jariku tidak dapat kutahan lagi, namun kusembunyikan di belakang tasku. Nafasku turun naik, sementara lidahku terasa kelu. Aku merasa amat haus sekali..

Di tengah suasana menunggu orang yang kucintai, sang kepala sekolah berbicara dengan lega dan perasaan suka cita. Ia memuji putriku, memuji hafalan Al-Qur’an-nya. Ia berbicara panjang lebar, sementara aku dengan sabar mendengarkannya!! Aku berdiri di hadapan wanita itu sementara ia terus berbicara, sedangkan aku ingin segera melihat putriku. Jiwaku seolah diajak berbicara. Sementara hatiku terluka..

Tiba-tiba pintu terbuka… Aku menghadap ke arah pintu bagaikan sinar rembulan yang tertawan oleh awan di langit.

Pandangan mataku terhalang, dan air mataku jatuh berderai. Kelemahanku terlihat di hadapan wanita kepala sekolah itu, sehingga suaraku meninggi. Namun aku segera mendengar suara yang merdu yang setiap malam selalu akrab di telingaku, yang di kala susah menjadi penghibur hatiku…

“Sabarlah wahai saudariku, jangan engkau bersedih. Ini adalah cobaan dari Allah untuk melihat kejujuran taubatmu. Allah tidak akan menyia-nyiakan dirimu selamanya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti akan Allah ganti dengan yang lebih baik darinya. Godaan, ia adalah godaan dalam agamamu.”

Aku keluar sambil mengumpat kepada diriku sendiri: “Kenapa aku harus datang ke sini?”

Hari-haripun berjalan dengan lambat. Sementara masa-masaku sarat dengan kesedihan. Aku berusaha mencari tahu kabar mereka. Aku bertanya tentang keadaan mereka. Enam bulan pun berlalu. Pada masa itu aku menanggung duka perpisahan dan merasakan kenikmatan kesabaran. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar..

Siapa yang mengetuk pintu di sore-sore begini? Oh, ternyata mereka adalah buah hatiku. Allah telah membawa mereka kepadaku. Mantan suamiku telah menikah lagi, dan ingin berlepas diri dari mereka demi kebebasannya.

Dua malam berlalu. Mataku tak juga puas memandangi mereka. Telingaku tidak pernah mendengar suara yang lebih merdu dari suara mereka… Ciumanku bertubi-tubi menyentuh mereka bagaikan hujan yang menyentuh kulit bumi yang subur dengan tanaman. Aku menyadari, bahwa Allah telah mengabulkan doaku. Allah mengembalikan mereka kepadaku. Namun masih tersisa persoalan yang lebih besar lagi; yakni pendidikan mereka..

Aku kembali ingat hari kesadaranku. Aku mencari kaset tersebut. Aku memuji Allah atas taubatku itu… Aku telah melewati loromg gelap tersebut. Aku bersabar menghadapi cobaan. Aku terus memohon keteguhan kepada Allah. Keteguhan.

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cetakan I, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 186-194.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s