KERETA… KAMI ADALAH KAUM MUSAFIR : sempitnya liang lahat terasa luas bagiku..

Aku mendatangi kuburan dan memanggil-mangilnya..
Di mana letak orang yang terhormat dan orang yang hina..
Di mana orang yang congkak karena kekuasaannya
Dan mana pula orang yang agung ketika berbangga dengan keagungannya Panggillah semuanya. Ternyata tak ada kabar berita
Mereka telah mati semua, dan meninggalkan pelajaran

Pagi hari aku bangun. Aku merasa sedih sekali. Tanda kesedihan tergambar di wajahku. Aku tidak tahu sebab kesedihan itu secara langsung… Akan tetapi… kemungkinan setelah pembicaraan sore itu..

Sore itu, kami sesama teman sekolah dan teman di masa kecil, melakukan reuni. Kami berbincang-bincang tentang kehidupan kami, tentang pekerjaan kami. Aku keluar dari pertemuan itu dengan kesan biasa-biasa saja.

Kebanyakan dari mereka memang berharta. Mereka bisa belanja sesuka hati dan apa yang mereka kehendaki. Si Fulan memiliki barang ini dan itu. Si Fulan juga sepertinya, bahkan lebih lagi. Sementara aku? Yang paling kekurangan di antara mereka. Kemungkinan karena itu aku bersedih, sehingga aku dirundung kedukaan.

Aku punya janji setelah shalat Ashar dengan Abdurrahman. Ia seorang pemuda setengah umur. Bagus akhlaknya, supel dan menonjol, yang terbaik di antara pemuda yang ada. Semoga dengan mengunjunginya, perasaanku menjadi lebih ringan.

Sebagaimana yang aku bayangkan. Begitu ia merasakan bahwa ada sesuatu dalam hatiku, segera berbagai pertanyaan pun mengalir darinya secara beruntun..

“Ada apa denganmu? Ada yang mengeruhkan kejernihan hidupmu? Memujilah kepada Allah atas segala kenikmatan yang engkau rasakan.”

Kemudian ia melanjutkan dengan nada mengecam: “Demi Allah, engkau berada dalam kenikmatan yang tidak dapat dihitung dan dibilang. Yang pertama, adalah nikmat Islam.”

Ia memperlambat bicaranya, kemudian melanjutkan: “Kondisimu ini seperti kisah tentang seorang lelaki yang mendatangi orang shalih. Ia mengeluhkan kesempitan hidup dan kesulitannya, serta kesedihannya karena hal itu. Orang shalih itu bertanya: “Apakah engkau akan gembira bila penglihatanmu dibeli seharga seratus ribu dirham?” Ia menjawab: “Tentu tidak.” Bagaimana dengan pendengaranmu?” “Juga tidak.” jawab lelaki itu. Orang shalih itu berkata: “Aku melihat engkau memiliki ratusan ribu dirham, tetapi engkau mengeluh tidak punya apa-apa?”

Aku terdiam sejenak, kemudian kujawab dengan suara lemah: “Alhamdulillah.” Keluarlah kata-katanya yang sungguh benar. Ia betul-betul teman yang terbaik…

“Masih adakah kekeruhan dan kesempitan dalam dadamu? Ingat satu hal.” Ia mengangkat suaranya dan menanyaiku dengan keras: “Bagaimana mungkin engkau memberi tempat kesempitan itu dalam dadamu? Hanya dalam satu hari, kau biarkan kekeruhan dan kesedihan itu berputar dan merasuk ke dalam dadamu? Bagaimana engkau fungsikan shalat dan membaca Al-Qur’an? Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bila merasa kesusahan karena suatu urusan, beliau kembali kepada shalat..

Setiap hari engkau tidak pernah ketinggalan membaca surat kabar dan majalah. Bagaimana dengan membaca bacaan dari Rabb-mu? Bagaimana engkau dengan Al-Qur’an?

Bagaimanapun juga, engkau harus menghilangkan segala yang ada dalam benakmu, dan mengembalikan kejernihan pikiranmu.”

Aku mengangkat kepalaku, dan segera menjawab: “Tentu saja.” “Kalau begitu mari!” katanya. “Kemana?” tanyaku. “Jangan tanya mau kemana.” ujarnya.

Setelah mengunci pintu mobil… Oh sungguh kendaraan angkutan yang nyaman sekali. Kapan pun, bisa pergi dengan nyaman dan tenang.

“Apakah engkau sudah memuji Allah karena engkau tinggal di negeri Islam dan bersama kaum muslimin, mendengar suara adzan lima kali sehari? Engkau bisa mendidik anak-anakmu dengan tauhid yang murni..”

Di jalan raya umum… Ia melambatkan mobilnya dan berjalan ke arah kanan. “Mau kemana kita wahai Abdurrahman? Bukankah ini jalan ke pekuburan?” Aku tahu bahwa itu memang jalan ke pekuburan. Dan yang ada di hadapan kami memang pekuburan..

“Santailah, jangan tergesa-gesa. Kenapa takut? Coba kita memasuki pekuburan ini dengan berjalan kaki, sebelum kita digotong menuju ke arahnya… Ini adalah rumah kita yang kedua. Mari kita mengunjunginya…

“Assalamua’alaikum, wahai kampung halaman orang-orang beriman. Insya Allah, kami nanti menyusul kalian. Semoga Allah memberi rahmat kepada yang datang duluan di antara kalian dan yang datang belakangan. Kami memohon keselamatan bagi kita bersama. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami mendapatkan pahala mereka dan janganlah engkau timpakan petaka kepada kami sepeninggal mereka, ampunilah kami dan juga mereka.”

Setelah mengucapkan salam kepada para penghuni kuburan tersebut, aku membiarkan mataku menyapu tanah pekuburan itu. Tanah yang kosong, kering dan menakutkan. Sunyi berkepanjangan, tak terdengar suara sedikitpun, meski banyak yang tinggal di situ. Kuburan-kuburan yang berjejer rapat. Sementara dahulu mereka tinggal berjauhan, tidak saling mengenal yang satu dengan yang lain. Ada anak kecil yang masih menyusui. Ada orang kaya ada juga orang tak punya. Ada orang tua renta, di sini kuburannya. Ada pula seorang pengantin yang berbantal empuk di malam pengantinnya. Kini di sini tempat tidurnya. Di sini pula tinggal semua orang yang biasa tinggal dalam rumah-rumah mewah dan istana-istana.

Adapun di sana… Ada kuburan seorang pemuda yang masih sehat dan kuat. Ia terjatuh secara tiba-tiba dan dikuburkan pula secara tiba-tiba.

Kuburan-kuburan yang sudah digali ini, masih menunggu calon penghuni baru. Menanti jenazah yang datang menuju kepadanya. Mungkin aku, mungkin juga engkau. Pikiranku terputus..

“Bagaimana pendapatmu dengan kuburan ini dan liang lahat ini? Bagaimana pendapatmu tentang tempat ini? Ini adalah ibarat kotak amal. Ini adalah tempat tinggalmu yang kedua. Wahai Abdullah. Turunlah ke kuburan itu..”

Dengan cepat dan secara jujur aku menjawab: “Tidak bisa.” Sambil menjawab, aku segera mundur dan menjauh dari pinggir kuburan itu, takut bila terjatuh ke sana..

Adapun Abdurrahman, segera maju dan turun ke kuburan itu. “Bismillah.” katanya. Ia berbaring miring di liang lahat tersebut.

Oh, betapa hinanya dunia ini. Inilah tempat tinggalku sesudah mati. Ya Allah, jadikanlah kuburanku ini sebagai salah satu taman Surga.

Sesaat kemudian, ia melompat dari kuburan itu dan memperdengarkan kepadaku suaranya; membaca ayat:

“Apakah kamu sekalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia, dan sesungguhnya kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Justru kami akan dikembalikan kepada-Mu, kami akan dikembalikan..

Ia menoleh kepadaku sambil membersihkan debu dari tubuhnya. “Turunlah kemari wahai Abdullah, agar hilang kesedihanmu.”

Aku sedikit gemetar, namun berusaha menguasai diri. Karena kulihat ia terus mendesakku, aku pun turun juga ke kuburan sempit itu dan ke liang lahatnya. Gelap dan tidak bersahabat. Bergerakpun aku tidak bisa.

“Wahai Abdullah.” Suara keras memanggilku dari atas. “Umpamakan saja bahwa engkau sudah mati dan dikubur di sini. Amal shalih apa yang telah engkau lakukan?” Aku menggerak-gerakkan mataku ke kiri dan ke kanan di dalam kuburan itu. Aku memikirkan dua perkara: Hinanya dunia dan panjangnya angan-angan..

Kita semua akan pergi dan meninggalkan segala sesuatu, kecuali amal shalih…

Sumber: Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. 1, Ramadhan 1422 H / Desember 2001 M. Hal. 168-173.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s