BUDUR: kondisi suamimu lemah, ada semacam radang di kulit otaknya..

Malam-malam berbincang kepadamu bahwa kewajiban mereka adalah mencerai-beraikan yang selama ini engkau kumpulkan, maka dengarlah beritanya Waspadalah terhadapnya karena ia telah memberi nasihatnya
Perhatikanlah dirinya akan engkau dapatkan tanda-tanda kekuasaan Allah dan pelajaran dari-Nya Apakah engkau pernah melihat satu hal yang baru yang tidak pernah rusak adanya
Dan apakah engkau pernah mendengar kejernihan yang tak pernah keruh zatnya?

Putriku Budur datang, didahului oleh suara bagaikan burung berkicau, dan tatkala aku menengok ke arahnya, ternyata ia berlari ke arahku dengan cepat sambil mengangkat kedua tangannya..

Aku memeluknya dengan erat, aku rasakan seolah-olah ujung jari-jarinya menembus tubuhku. Aku memejamkan mata, memuji Allah atas segala kenikmatan yang banyak ini. Seorang suami dengan seorang putri, kebahagiaan dengan keteduhan…

Aku teringat dengan hari-hari pertama itu. Yakni ketika aku masih duduk di bangku SMA. Namun karena hubungan kerabat, keluargaku setuju. Bertahun-tahun berlalu dari masa-masa itu, yakni ketika aku tahu bahwa Adil datang meminangku. Banyak wanita yang mengharapkannxa. Ia memiliki agama dan akhlak yang baik.

Setelah lama menunggu, selesailah akad pernikahan itu yakni setelah aku memperoleh ijazah perguruan tinggi. Kami memikirkan masa depan..

Kami masih di permulaan jalan. Angan-angan kami besar, cita-cita kami juga banyak sekali. Ia harus menjalani ikatan dinas untuk bekerja di Saudi Arabia.

Ia pun berangkat sendirian dan tinggal di negeri asing. Sementara aku sendirian dalam keterasingan..

Setelah satu tahun setengah, karena jauhnya lokasi suamiku dan karena kerinduan mendalam, aku berangkat untuk menemuinya, sementara aku takut menghadapi perantauan baru, takut karena tidak ada teman. Bagaimana aku harus hidup jauh dari keluarga dan kerabatku?

Akan tetapi aku ingat bahwa di sini ada suamiku yang menungguku. Ia orang yang baik akhlak dan agamanya. Aku tidak pernah bermimpi atau berangan-angan mendapatkan orang dengan akhlak sebaik itu. Ia orang yang supel, lembut, berwajah ceria, jernih jiwanya, jujur, memberikan kepadaku kasih sayang yang sejati. Kami sama-sama dipertemukan di negeri asing, dan kasih sayang yang sejati. Kami sama-sama dipertemukan di negeri asing, dan kasih sayang tumbuh di dalam hati kami.

Barang-barang yang dimilikinya sederhana. Aku menyukainya.

Kadang-kadang ia meminta segelas air atau teh, lalu mengiringinya dengan ucapan terima kasih. Aku tertarib dengan adab dan prilakunya..

Aku berkata kepadanya: “Jangan engkau berterimakasih kepadaku karena melayanimu. Itu adalag kewajibanku terhadapmu.”

Namun ia begitu membanjiriku dengan kebagusan akhlaknya. Aku memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya karena Allah telah menganugerahkan kepadaku seorang suami yang mengusap air mata di negeri asing dan menggantinya dengan sesuatu yang kusukai…

Aku memiliki sebaik-baiknya suami, sebaik-baiknya ayah sekaligus sebaik-baiknya keluarga…

Aku sudah masuk bulan-bulan akhir masa hamilku…

Ia tidak pernah menyusahkan aku dengan permintaan atau menyuruhku melakukan yang tidak aku mampu. Bahkan ia selalu bertanya terlebih dahulu sebelum meminta sesuatu. “Apakah engkau sedang lelah? Apakah engkau sedang lemah?”

Kegembiraan dan mimpi-mimpinya selalu menemani hari-hariku. Ia sering berkata: “Bila Allah menganugerahkan kepada kita seorang anak akan kita beri nama Bilal.” Ia amat menyukai Bilal, muadzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Hari-hari terakhir masa kehamilanku telah berlalu, aku pun melahirkan seorang anak kecil bagaikan rembulan. Kami menamakannya “Budur”. Suatu hari aku bertanya kepadanya ketika sedang bermain-main dengan anaknya itu: “Apakah engkau sedih karena yang hadir adalah Budur bukan Bilal?” Suamiku menjawab: “Sesungguhnya ini adalah karunia Allah. Allah berfirman:

“Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki..” (Asy-Syuraa: 49)

Yang memberi karunia Budur kepada kita, niscaya juga akan memberikan Bilal kepada kita, insya Allah.”

Alhamdulillah naungan kebahagiaan bertambah, pohon cinta kasih itu pun semakin tumbuh berkembang. Termasuk di antara karunia Allah kepada kami adalah, kehadiran kami di negeri ini, di mana terdapat pengajian para ulama, ceramah-ceramah, dan kajian-kajian intensif, hingga lingkungan belajar pun adalah lingkungan masyarakat terdidik yang saling menasihati dan berbuat kebajikan. Salah seorang temanku di sekolahku memberi hadiah sebuah kaset: “Wahai wanita, pakailah hijab atau masuk Neraka”, ceramah salah seorang ulama…

Dengan hanya mendengarkan kaset ini, Allah memberiku hidayah untuk menutup wajahku…

Suamiku amat senang bila mendengar adzan Shubuh. Ia segera bangkit dari kasurnya dengan segera, membangunkan aku dan keluar untuk shalat berjamaah. Salah satu nasihatnya kepadaku ketika aku hendak berangkat ke sekolah: “Engkau adalah pendidik generasi mendatang; hendaknya engkau bersikap ikhlas dan hindarilah menggunjing dan mengadu domba. Kalau ada kebaikan dalam ucapanmu, berbicaralah. Tidak ada kebaikan dalam ucapan yang akan membuatmu menyesal di hari Kiamat nanti..”

Sepanjang perjalanan pulang dan pergi, kami selalu pada umumnya mendengarkan kaset salah seorang ulama. Hari-hari pun berlalu dengan manis dan indah, bagaikan angin sepoi-sepoi dan semerbak..

Pada suatu hari, seperti pada hari-hari yang lain, aku berangkat ke sekolah. Ketika aku keluar dari sekolah usai shalat Zhuhur, aku melihatnya tidak seperti biasanya. Aku melihat ia begitu lelah dan loyo. Aku bertanya: “Ada apa denganmu?” Aku lemas sekali, dan merasa agak pusing. Sesampainya di rumah, aku menghidangkan kepadanya makanan yang ada di rumah. Ia tidak beringsut dari tempat tidurnya. Aku menyulangkan makanan itu dengan tanganku. Aku kembali bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi kepadamu?” Ia kembali menjawab: “Aku capek sekali, dan butuh istirahat.”

Aku meninggalkannya tidur hingga datang waktu Ashar. Aku membangunkannya, namun ia tidak mampu bangkit. Segera aku menghubungi tetangga dan pergi membawanya bersama mereka ke rumah sakit…

Di sana, segalanya menjadi permulaan dan akhir segalanya…

Datang dokter dengan cepat memberitahukan: “Kondisi suamimu lemah. Ada semacam radang di kulit otaknya..” Kemudian ia menjelaskan secara rinci. Ada dua macam, jenis yang ringan dan yang berbahaya..

Aku menerima berita itu dengan tabah. Aku tidak menyangka bahwa aku akan mengalami hal seperti ini.

Hingga jam setengah dua malam aku shalat dan berdoa kepada Allah agar suamiku sembuh. Ia terus pingsan selama tiga hari penuh. Dari mulai Zhuhur hari Rabu hingga hari Kamis dan Jum’at…

Hari Sabtu pagi, kondisinya membaik dan siuman dari pingsannya. Ia mulai dapat mengenali bentuk orang-orang yang berkunjung kepadanya. Ketika aku mendekatinya, aku bertanya kepadanya: “Apakah engkau mengenalku wahai Adil?” Ia menjawab: “Tidak.” “Apakah engkau juga tidak kenal dengan Budur?” tanyaku. “Apakah ia putriku?” jawabnya. Segera kutambahkan: “Aku ibunya Budur.” Ia segera tersenyum dan berkata: “Kalau begitu engkau istriku.” Aku pun menangis tersedu-sedu…

Tiga hari yang lalu, bagaimana kondisinya, ingatannya, akalnya dan pertanyaannya tentang diriku. Sekarang segalanya telah berubah. Ia tidak mengenal sampai orang yang paling dicintainya selama ini, ia tidak mengenal istri dan putrinya..!!

Aku lama sekali berfikir, dan tidak pernah lupa berdzikir kepada Allah. Dan aku tergugah oleh suara Imam ketika membaca Al-Qur’an, seolah-olah ia berbicara kepadaku:

“Wahai orang-orang yang beriman, ambilah pertolongan dari kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar…” (Al-Baqarah: 153)

Aku mengikuti bacaan ayat, dan kala itu juga air mataku berderai, dan aku pun sadar bahwa aku termasuk orang-orang yang disapa dalam ayat ini..

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillahi wa innaa ilaih raaji’un’.” (Al-Baqarah: 155-156)

Kami di sini di tanah perantauan. Dengan kehilangan suami, betul-betul merupakan musibah. Siapa yang akan mengantarka ke rumah sakit menemuinya nanti? Siapa yang pergi bersamaku? Betul-betul dalam keterasingan, dan keterasingan yang terberat. Terutama bagi seorang wanita yang lemah sepertiku. Seorang diri di rumah, tanpa saudara, tanpa ayah, dan tanpa suami..

Pada hari Ahad, aku berusaha menyembunyikan kesedihanku. Aku pergi bersama salah seorang teman suamiku bersama istrinya. Hari itu kebahagiaanku tidak dapat digambarkan dan kebahagiaanku tidak ada batasnya. Suamiku sudah mulai mengenalku dan sudah mengenal siapa saja yang menjumpainya.

Ia berusaha memperhatikan orang-orang di sekelilingnya, semua yang mengunjunginya mencoba mengenalkan diri, ia mengenal dan tersenyum kepadanya. Akan tetapi ia tidak mampu mengingat nama-nama mereka. Adapun aku sebagai istrinya dan ibu dari anak-anaknya, ia langsung mengenalku begitu melihatku, lalu memanggil namaku dan tersenyum kepadaku..

Seolah-olah aku belum pernah merasakan arti kebahagiaan kecuali pada saat itu. Seakan-akan aku belum pernah mendengar namaku melalui lisannya kecuali pada kali itu saja…

Ia meminta kepadaku untuk membantunya berwudhu dan melakukan shalat yang selama ini tertinggal, nuraninya adalah adzan dan ucapanyna adalah shalat..

Kejadian demi kejadian pun dengan cepat berlalu..

Pada hari Senin, ia dipindahkan ke ruangan isolasi karena virus telah tersebar pada tubuhnya dan panas tubuhnya meningkat. Hari itu menjadi hari yang bersejarah baginya…

Pada hari itu aku mengunjunginya dari jam tiga hingga jam lima, dan dari jam tujuh hingga jam sembilan. Dan Allah menghendaki diriku untuk bersamanya dari jam tiga hingga jam sembilan..

Aku meletakkan kompres di wajah, tangan dan kakinya. Akan tetapi panasnya tetap meningkat..

Aku mulai membaca Al-Qur’an dengan suara yang terdengar olehnya. Ketika aku berhenti sejenak untuk meletakkan kompres di atas kedua kakinya, ia berkata: “Nyalakan saja tape recorder untuk merekamnya.” Aku gembira dan berkata: “Engkau ingin mendengar bacaan Al-Qur’an wahai Adil?” Ia menjawab: “Tentu saja.”

Aku melanjutkan membaca Al-Qur’an hingga datang waktu kunjungan kedua. Datanglah berkunjung sebagian teman dan rekan-rekannya, di antaranya seorang temannya yang konsekuen dalam ajaran Islam, yang juga menyukai dan mencintainya. Ketika melihatnya, suamiku tampak gembira sekali. Ia mengulurkan salam untuk menyalaminya. Tetapi kegembiraanku lebih besar lagi. Aku pun mengulurkan tanganku dengan cepat dan menyalami suamiku itu. Dan ternyata itu adalah salam dan jabatan tangan terakhir dengannya…

Aku pulang ke rumah dalam keadaan hati kosong, jiwaku merasa sendu, aku amat sedih sekali. Aku memohon ketabahan dari Allah… Seiring dengan datangnya fajar di hari Selasa, muadzin mengangkat suara mengumandangkan adzan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Adil membuka kedua matanya dan duduk tanggung di atas tempat tidurnya. Kedua matanya memandang ke arah langit. Kemudian ia kembali menurunkan badannya dan menutup kedua matanya. Ruhnya naik ke haribaan Allah…

Setiap manusia memiliki akhir kehidupan. Akhir kehidupannya telah tiba, pada hari ini. Pagi harinya ia masih menjadi penduduk dunia, di sore harinya ia telah menjadi penghuni akhirat…

Di pagi harinya, aku mencari orang yang mau mengantarkanku ke rumah sakit. Salah seorang tetangga secara suka rela mengantarkanku bersama istrinya. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi pada diri suamiku akibat panas yang terus-menerus…

Kami sudah berada di samping rumah sakit. Tetanggaku berkata: “Tunggulah di sini, biar saya bertanya tentang keadaannya…” Tetanggaku pergi cukup lama, atau hanya perasaanku saja yang demikian. Aku tidak mampu bersabar menunggunya. Ketika aku berniat masuk ke rumah sakit, tiba-tiba ia datang dengan menundukkan kepala. Ia berkata: “Suamimu sudah meninggal dunia, bersabarlah…” Aku bertanya: “Apakah mereka sudah membawanya pergi dari sini?” “Belum.” jawabnya. “Kalau begitu aku harus melihatnya.” kataku. Dan memaksa keinginanku tersebut. Kami pun bertiga, sementara aku sendiri mengulang-ulang firman Allah: “Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.”

Saya berjalan segera, mempercepat langkah menuju kamarnya, dan ternyata dia sudah membujur di atas kasur… dan ditutup dengan kain… saya membuka penutup… ternyata wajahnya penuh dengan ketenangan dan kabar gembira, saya tidak merasakan kecuali saya mengecupkan keningnya… Selamat masuk Surga… bertemu dengan bidadari, mereka menyuruh aku keluar sedang lisanku mengatakan: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah aku pengganti yang lebih baik… Benturan cobaan pertama itu begitu kuat, rasa sakitpun demikian besar, akan tetapi aku berharap pahala dari musibahku itu… Kami mengebumikannya di sini, di tanah yang dia cintai…

Keceriaan tampak pada orang-orang di sekitarku. Mereka menghitung-hitung kebaikannya, bagaimana ia menjaga shalat. Aku memuji Allah atas penutup kehidupannya yang baik itu…

Aku memikirkan keadaan hidup di dunia ini, bila ia memberi, pasti akan mengambilnya lagi, bila ia memberi kegembiraan, pasti akan membuat menangis, bila ia menyenangkan, pasti akan memberi kesedihan pula…

Hanya beberapa saat saja, aku berada di antara kegembiraan dan kesedihan, antara senyuman dan air mata…

Hari ini… Keterasingan kembali kepada diriku, aku kembali kepada kesendirianku. Aku kehilangan Adil, namun Rabb Adil tetap kekal adanya. Allah tidak akan menyia-nyiakan diriku dan juga putriku, Budur. Dia-lah Yang Maha Gengasih dari segala yang pengasih…

Sumber:
Perjalanan Menuju Hidayah karya Abdul Malik Al-Qasim (penerjemah: Abu Umar Basyir), penerbit: Darul Haq, cet. I, Ramadhan 1422 H/ 2001 M, hal. 222-232.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s